Hadis tentang Do’a Adalah Ibadah
Hadis
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى وَالْأَعْمَشِ عَنْ ذَرٍّ عَنْ يُسَيْعٍ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ. (رَوَاهُ سُنَنُ التِّرْمِذِيِّ: ٣٥٥٥)
Terjemahan
Hadis dari An-Nu‘man bin Basyir bahwa ia berkata bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda bahwa doa adalah ibadah, kemudian beliau membaca firman Allah: “berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al Mu`min: 60). (HR al-Tirmidzi: 3555).[1]
Isi kandungan Hadis
Hadis ini menegaskan bahwa doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, bahkan disebut sebagai inti dari ibadah itu sendiri (العبادة هو الدعاء). Hal ini menunjukkan bahwa setiap bentuk ibadah pada hakikatnya mengandung unsur permohonan, ketundukan, dan penghambaan kepada Allah. Doa mencerminkan pengakuan seorang hamba atas kelemahan dirinya serta kebutuhan mutlak kepada Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Selain itu, hadis ini diperkuat dengan ayat Al-Qur’an (QS. Al-Mu’min: 60) yang menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan pengabulan. Sebaliknya, orang yang enggan berdoa dipandang sebagai bentuk kesombongan dalam beribadah, yang berakibat ancaman masuk neraka dalam keadaan hina. Dengan demikian, hadis ini mengandung dorongan kuat agar seorang muslim senantiasa memperbanyak doa, serta menjauhi sikap sombong yang membuatnya merasa tidak membutuhkan pertolongan Allah.
Referensi
- 6Ibid, juz 5, hal. 176, Kitab Ad-Du'a, Bab Innahu Ad-Du'u Huwa Al-'Ibadah, No. 3555.

Komentar 0