Hadis tentang Do’a Memohon Rezeki yang Halal
Hadis
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ قُرَيْشًا لَمَّا أَبْطَئُوا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْإِسْلَامِ قَالَ اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ فَأَصَابَتْهُمْ سَنَةٌ حَصَّتْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى أَكَلُوا الْعِظَامَ حَتَّى جَعَلَ الرَّجُلُ يَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا مِثْلَ الدُّخَانِ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٤٦٩٣)
Terjemahan
Hadis Dari ‘Abdullah RA bahwa ketika orang-orang Quraisy menangguhkan untuk memeluk Islam maka Nabi SAW mendoakan kebinasaan bagi mereka dengan berdoa: “ya Allah, tolonglah kami dalam menghadapi mereka dengan mengirimkan tujuh tahun (kelaparan) sebagaimana yang telah menimpa Yusuf,” maka kemudian mereka tertimpa tahun paceklik yang menghabiskan segala sesuatu hingga di antara mereka memakan tulang, dan seseorang dari mereka ketika melihat ke langit ia melihat antara dirinya dan langit
seakan-akan terhalangi oleh asap karena rasa lapar. ( HR al-Bukhari: 4693).[1]
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menunjukkan bahwa doa memiliki kekuatan besar dan dapat menjadi bentuk permohonan pertolongan kepada Allah dalam menghadapi penentangan terhadap kebenaran. Rasulullah SAW berdoa ketika kaum Quraisy terus menolak dakwah Islam dan menyakiti kaum muslimin, sehingga Allah menimpakan ujian berupa paceklik sebagai peringatan bagi mereka. Hadis ini juga mengandung pelajaran bahwa kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu dan bahwa kesombongan serta penolakan terhadap kebenaran dapat mendatangkan akibat yang berat. Selain itu, seorang muslim diajarkan untuk tetap bersandar kepada Allah dalam menghadapi kesulitan dan menjadikan doa sebagai sarana memohon pertolongan, dengan tetap mengedepankan hikmah, kesabaran, dan keadilan.
Referensi
- Ibid, juz 4, hal. 1994, Kitab At-Tafsir, Bab Tafsir Surah Al-'Ankabut, No. 4693 .

Komentar 0