Hadis tentang Keutamaan Memberikan Pinjaman
Hadis
عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ تَجَاوَزُوا عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا ، فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخارى: ٢١٧٨)[1]
Terjemahan
Hadis dari 'Ubaidullah bin 'Abdullah bahwa dia mendengar Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda: “Ada seorang pedagang yang memberi pinjaman kepada manusia sehingga jika ia melihat mereka dalam kesulitan dia berkata kepada para pembantunya: "Berilah dia tempo hingga mendapatkan kemudahan semoga Allah memudahkan urusan kita. Maka kemudian Allah memudahkan urusan pedagang tersebut." (HR al-Bukhari: 2178)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat menyentuh tentang sifat kedermawanan dan kasih sayang dalam urusan ekonomi, yang mana Allah membalas perbuatan hamba-Nya sesuai dengan jenis amal yang dilakukan. Kandungan utamanya mengajarkan bahwa siapa pun yang memudahkan kesulitan orang lain di dunia, terutama dalam urusan utang-piutang, maka Allah akan memudahkan urusannya kelak di dunia maupun di akhirat. Pedagang dalam hadis ini bukan sekadar mengejar keuntungan materi, melainkan memiliki kelapangan hati untuk memerintahkan pembantunya memberi kelonggaran atau bahkan membebaskan utang bagi mereka yang benar-benar tidak mampu membayar.
Sifat mulia pedagang tersebut menunjukkan bahwa niat yang tulus saat berinteraksi dengan sesama manusia dapat menjadi jalan datangnya rahmat Allah. Kalimat "semoga Allah memudahkan urusan kita" mencerminkan kesadaran tinggi bahwa setiap kemudahan yang kita berikan kepada orang lain adalah investasi spiritual agar kita juga mendapatkan kasih sayang dari Sang Pencipta. Hal ini selaras dengan kaidah umum dalam Islam bahwa balasan itu sebanding dengan jenis perbuatannya. Dengan demikian, hadis ini memotivasi para pelaku usaha untuk tidak hanya bersikap profesional, tetapi juga memiliki empati dan kemurahan hati, karena keberkahan hidup seringkali datang dari doa-doa orang yang telah kita ringankan bebannya.
Referensi
- Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-Mukhtasar Min Umur Rasulillah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam Wa Sunanih Wa Ayyamih, (Dar al- Kutub al-Ilmiah, 1981). Juz 7. h. 473.

Komentar 0