Hadis tentang Keutamaan Memohon Ampun
Hadis
سَمِعْتُ بِلَالَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: سَ أَبِي يُحَدِّثُنِيهِ عَنْ جَدِّي أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ. (روه ابو داود: ۱٥١۹).
Terjemahan
Aku mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid, maula Nabi SAW, berkata: Aku mendengar ayahku menceritakannya kepadaku dari kakekku bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengucapkan: ‘Astaghfirullāhalladzī lā ilāha illā huwa al-Ḥayyul-Qayyūm wa atūbu ilaih’ (Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya), maka ia akan diampuni, sekalipun ia pernah melarikan diri dari medan perang.” (HR Abu Daud: 1519)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan istigfar yang disertai pengakuan tauhid dan tobat kepada Allah. Lafaz istigfar yang diajarkan Nabi SAW mengandung permohonan ampun sekaligus pengakuan akan keagungan dan kekuasaan Allah. Hadis ini juga menegaskan luasnya ampunan Allah, sehingga dosa yang sangat besar sekalipun dapat diampuni apabila seseorang bertobat dengan tulus dan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak istigfar dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Komentar 0