Hadis tentang Taubat yang Disertai Hijrah dari Lingkungan Dosa
Hadis
حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الأَزْدِيُّ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ النَّاجِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:«كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ! انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ، فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ، وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ. فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ، فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ، فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوا فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ، فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ» (رواه مسلم: ٢٧٦٦)[1]
Terjemahan
Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Abu ash-Shiddiq an-Naji, dari Abu Sa'id al-Khudri, dari Nabi SAW, beliau bersabda:"Dahulu, pada umat sebelum kalian, hidup seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian ia bertanya tentang siapa penduduk bumi yang paling berilmu, lalu ia ditunjukkan kepada seorang rahib. Ia pun mendatangi rahib itu dan mengabarkan bahwa dirinya telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah masih ada jalan taubat baginya? Rahib itu menjawab, 'Tidak ada.' Maka orang itu membunuhnya pula, sehingga genaplah seratus orang yang telah ia bunuh.Kemudian ia kembali bertanya tentang siapa penduduk bumi yang paling berilmu, lalu ia ditunjukkan kepada seorang yang alim. Ia mengabarkan bahwa dirinya telah membunuh seratus orang, apakah masih ada jalan taubat baginya? Orang alim itu menjawab, 'Ya, ada. Siapakah yang dapat menghalangi seseorang dari taubat? Pergilah engkau ke negeri ini dan itu, sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah SWT, maka beribadahlah kepada Allah SWT bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.'Maka berangkatlah orang itu. Ketika ia telah sampai di pertengahan perjalanan, datanglah ajal menjemputnya. Maka berselisihlah malaikat rahmat dengan malaikat azab dalam memperebutkannya. Malaikat rahmat berkata, 'Ia datang dalam keadaan bertaubat, dengan hati yang menghadap kepada Allah SWT.' Sedangkan malaikat azab berkata, 'Sesungguhnya ia belum pernah sama sekali berbuat kebaikan.'Lalu datanglah kepada mereka seorang malaikat dalam rupa manusia, maka mereka pun menjadikannya sebagai penengah di antara keduanya. Malaikat itu berkata, 'Ukurlah jarak antara kedua negeri tersebut; ke negeri mana pun jaraknya lebih dekat, maka itulah haknya.' Mereka pun mengukurnya, dan ternyata mereka mendapati bahwa ia lebih dekat kepada negeri yang ia tuju. Maka malaikat rahmat pun mencabut nyawanya." (HR. Muslim: 2766)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menunjukkan bahwa taubat yang sungguh-sungguh tidak cukup hanya dengan penyesalan di hati, tetapi idealnya disertai usaha nyata meninggalkan lingkungan dan pergaulan yang mendorong seseorang kembali berbuat dosa inilah makna hijrah dalam konteks taubat. Hadis ini juga menegaskan bahwa pintu ampunan Allah SWT tetap terbuka bahkan bagi pelaku dosa sebesar pembunuhan berulang kali, selama ada kesungguhan niat untuk berubah. Yang menjadi penentu di sisi Allah bukanlah banyaknya amal yang telah dikerjakan, melainkan arah hati saat ajal menjemput. Oleh karena itu, seorang muslim yang ingin bertaubat hendaknya berani meninggalkan lingkungan buruk, mendekatkan diri pada orang-orang saleh, dan tidak pernah merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.
Referensi
Abu al-Husein Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim (Mesir: Maktabah al-Shafa, 2004), juz 8, h. 234.

Komentar 0