Hadis tentang Ketaatan kepada Nabi SAW dan Taubat dari Kesalahan
Hadis
حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ، قَالَ: اغْتَسَلْتُ وَتَخَلَّقْتُ بِخَلُوقٍ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ وُجُوهَنَا، فَلَمَّا دَنَا مِنِّي جَعَلَ يُجَافِي يَدَهُ عَنِ الْخَلُوقِ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: «يَا يَعْلَى، مَا حَمَلَكَ عَلَى الْخَلُوقِ؟ أَتَزَوَّجْتَ؟» قُلْتُ: لَا. قَالَ لِي: «اذْهَبْ فَاغْسِلْهُ». قَالَ: فَمَرَرْتُ عَلَى رَكِيَّةٍ فَجَعَلْتُ أَقَعُ فِيهَا، ثُمَّ جَعَلْتُ أَتَدَلَّكُ بِالتُّرَابِ حَتَّى ذَهَبَ. قَالَ: ثُمَّ جِئْتُ إِلَيْهِ، فَلَمَّا رَآنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «عَادَ بِخَيْرِ دِينِهِ الْعُلَا، تَابَ وَاسْتَهَلَّتِ السَّمَاءُ. (روه احمد بن حنبل: ١۸٠٢١). [1]
Terjemahan
Telah menceritakan kepadaku Umar bin Abdullah bin Ya‘la bin Murrah, dari ayahnya, dari kakeknya Ya‘la bin Murrah, ia berkata: Aku mandi lalu memakai khaluq (minyak wangi berwarna yang biasa digunakan wanita). Rasulullah SAW biasa mengusap wajah kami. Ketika beliau mendekat kepadaku, beliau menjauhkan tangannya dari bekas khaluq tersebut. Setelah selesai beliau bertanya, “Wahai Ya‘la, apa yang mendorongmu memakai khaluq? Apakah engkau baru menikah?” Aku menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda kepadaku, “Pergilah dan cucilah itu.” Maka aku melewati sebuah sumur, lalu turun ke dalamnya dan menggosok tubuhku dengan tanah hingga bekas khaluq itu hilang. Setelah itu aku kembali menemui beliau. Ketika Nabi SAW melihatku, beliau bersabda, “Ia telah kembali dengan kebaikan agamanya yang luhur; ia telah bertobat, dan langit pun bergembira.” (HR Ahmad bin Hanbal: 18021)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menunjukkan pentingnya segera menaati arahan Rasulullah SAW dan meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Ya‘la bin Murrah langsung membersihkan diri setelah dinasihati Nabi, lalu beliau memuji sikapnya sebagai bentuk tobat dan ketaatan. Hadis ini mengajarkan bahwa kesalahan yang segera diakui dan diperbaiki akan mendatangkan kebaikan serta menunjukkan kesungguhan seseorang dalam menjaga agamanya.
Referensi
- Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Ibnu Hambal, Musnad Ahmad Bin Hambal (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2010), juz 9, h. 852.

Komentar 0