Hadis tentang Doa Penutup Majelis sebagai Bentuk Taubat (Kaffaratul Majlis)
Hadis
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ الْجَرْجَرَائِيُّ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ الْمَعْنَى أَنَّ عَبْدَةَ بْنَ سُلَيْمَانَ أَخْبَرَهُمْ عَنِ الْحَجَّاجِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ:«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلًا مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. فَقَالَ: كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ» (رواه أبو داود: ٤٨٥٩).[1]
Terjemahan
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim al-Jarjara'i dan Utsman bin Abi Syaibah dengan makna yang sama bahwa Abdah bin Sulaiman mengabarkan kepada mereka, dari al-Hajjaj bin Dinar, dari Abu Hasyim, dari Abu al-'Aliyah, dari Abu Barzah al-Aslami, ia berkata:"Rasulullah SAW, di penghujung hidupnya, biasa mengucapkan ketika hendak beranjak dari suatu majelis: 'Subhānakallāhumma wa biḥamdika, asyhadu allā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik' (Mahasuci Engkau ya Allah SWT, dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu). Maka seorang laki-laki bertanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengucapkan suatu kalimat yang dahulu tidak pernah engkau ucapkan.' Beliau menjawab, 'Itu adalah kaffarat (penebus) atas apa yang terjadi dalam majelis.'" (HR. Abu Daud: 4859)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menunjukkan bahwa taubat dan istighfar tidak hanya diperuntukkan bagi dosa-dosa besar, tetapi juga menjadi penutup yang dianjurkan atas kelalaian dan percakapan yang mungkin tidak berfaedah selama berkumpul dalam suatu majelis. Kebiasaan Rasulullah SAW mengucapkan kalimat ini menjelang akhir hayatnya menunjukkan bahwa istighfar dan tobat semakin ditingkatkan intensitasnya seiring bertambahnya usia dan kedekatan dengan ajal. Doa ini mengandung tiga unsur penting: pengagungan kepada Allah (tasbih dan tahmid), kesaksian tauhid, serta permohonan ampun dan tobat sekaligus. Hadis ini mengajarkan kepada umat Islam untuk membiasakan diri menutup setiap pertemuan atau perkumpulan dengan zikir dan istighfar, sebagai bentuk kehati-hatian terhadap kelalaian yang mungkin terjadi tanpa disadari, sekaligus menjadikan tobat sebagai amalan rutin dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi
- Abu Dawud Sulaiman ibn al-'Asy'ats al-Sijistaniy Al Azdiy, Sunan Abi Dawud (Beirut: Dar Ibnu Hazam, 1997), Kitab al-Adab, Bab fi Kaffarat al-Majlis, hadis no. 4859.

Komentar 0