Hadis tentang Tata Cara Taubat setelah Melakukan Dosa
Hadis
سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: كُنْتُ رَجُلًا إِذَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا نَفَعَنِي اللَّهُ مِنْهُ بِمَا شَاءَ أَنْ يَنْفَعَنِي، وَإِذَا حَدَّثَنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِهِ اسْتَحْلَفْتُهُ، فَإِذَا حَلَفَ لِي صَدَّقْتُهُ. قَالَ: وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرٍ، وَصَدَقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ . ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ﴾ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ. (روه ابو داود: ۱٥٢٣).[1]
Terjemahan
Aku mendengar ‘Ali bin Rabi‘ah al-Asadi, dari Asma’ bin al-Hakam al-Fazari, ia berkata: Aku mendengar Ali bin Abi Thalib RA berkata, “Aku adalah seorang yang apabila mendengar suatu hadis dari Rasulullah SAW, Allah SWT memberiku manfaat dari hadis itu sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Namun apabila salah seorang sahabat beliau menyampaikan hadis kepadaku, aku meminta agar ia bersumpah. Jika ia bersumpah kepadaku, maka aku membenarkannya.” Ali berkata, “Abu Bakar telah menceritakan kepadaku, dan Abu Bakar benar dalam apa yang disampaikannya, bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa, kemudian ia menyempurnakan wudunya, lalu berdiri melaksanakan salat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah SWT, melainkan Allah SWT akan mengampuninya.’” Kemudian beliau membaca firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat Allah SWT.” (HR Abu Daud: 1523)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan salah satu cara bertobat yang dianjurkan dalam Islam, yaitu setelah melakukan dosa seseorang hendaknya segera bersuci dengan berwudu, melaksanakan salat dua rakaat (yang dikenal sebagai salat tobat), lalu memohon ampun kepada Allah SWT dengan penuh penyesalan. Hadis ini juga menunjukkan bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan membuka kesempatan bagi hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya setelah berbuat kesalahan. Selain itu, hadis ini menegaskan pentingnya kejujuran dalam periwayatan hadis serta kedudukan Abu Bakar sebagai sahabat yang sangat dipercaya oleh Ali bin Abi Thalib RA.
Referensi
- Abu Dawud Sulaiman ibn al-‘Asy’ats al-Sijistaniy Al Azdiy, Sunan Abi Dawud (Beirut:Dar Ibnu Hazam, 1997), juz 15, h. 138.

Komentar 0