Hadis tentang Sedekah Orang yang Sehat tapi Pelit
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: "أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ: لِفُلَانٍ كَذَا، وَلِفُلَانٍ كَذَا، وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ (رواه مسلم :٩٢)[1]
Terjemahan
Hadis dari Abu Hurairah RA ia berkata: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?" Beliau bersabda:"Yaitu engkau bersedekah saat kamu dalam keadaan sehat dan merasa pelit (sayang pada harta), saat kamu takut menjadi miskin dan sedang berharap menjadi kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda hingga ketika nyawa sudah sampai di kerongkongan, barulah kamu berkata: 'Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian,' padahal harta itu (sebentar lagi) sudah menjadi hak ahli waris (si fulan yang lain).”(HR Muslim:92)
Isi Kandungan Hadis
Pahala sedekah yang paling besar bukanlah ditentukan oleh jumlah nominalnya semata, melainkan oleh beratnya perjuangan batin saat mengeluarkannya. Ketika seseorang dalam kondisi sehat, ia biasanya merasa perjalanan hidupnya masih panjang dan ia memiliki keinginan kuat untuk menumpuk harta demi kenyamanan masa depan (shachih). Di saat itulah godaan untuk menjadi pelit muncul karena ada rasa takut akan kemiskinan dan ambisi untuk menjadi lebih kaya. Jika seseorang mampu mematahkan ego dan rasa pelitnya pada momen tersebut, maka nilai sedekahnya di sisi Allah jauh lebih tinggi dibandingkan sedekah yang dilakukan saat seseorang sudah tidak memiliki harapan hidup.
Referensi
1. Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar Min as-Sunan bi Naql al-'Adl 'an al-'Adl Ila Rasulillah Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1991). Juz 2. h. 92

Komentar 0