40 HADIS EKOTEOLOGI

KTI

Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Ekoteologi

Ekoteologi merupakan cara pandang yang menghubungkan ajaran agama dengan kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Kata ini gabungan dari ekologi (ilmu tentang lingkungan) dan teologi (ilmu tentang ketuhanan). Lalu, bagaimana hadis Nabi SAW memandang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan? Temukan jawabannya melalui koleksi hadis dalam aplikasi ini.

Foto Milda Yanti Putri

Tentang Penulis

Milda Yanti Putri

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS EKOTEOLOGI

Penyusun: Milda Yanti Putri

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Anjuran Mengelola Tanah secara Produktif

Disusun oleh: Milda Yanti Putri (@mildaputri_) · Bagian dari 40 HADIS EKOTEOLOGI

Hadis

عَنْ جَابِرٍ رضى الله عنه قَالَ كَانُوا يَزْرَعُونَهَا بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ وَالنِّصْفِ فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْ لِيَمْنَحْهَا، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٢٣٤٠)[١] 

Terjemahan

Hadis dari Jabir RA berkata: dahulu orang-orang mempraktekkan pemanfaatan tanah ladang dengan upah sepertiga, seperempat atau setengah maka Nabi SAW bersabda: siapa yang memiliki tanah ladang hendaklah dia garap untuk bercocok tanam atau dia hibahkan. Jika dia tidak lakukan maka hendaklah dia biarkan tanahnya. (HR al-Bukhari: 2340)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan tentang tanah tidak boleh dibiarkan terlantar, melainkan harus dimanfaatkan secara produktif atau diberikan kepada orang lain untuk dikelola. Ditinjau berdasarkan perspektif ekoteologi, ini menunjukkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan, bukan menelantarkannya. Pemanfaatan tanah yang produktif tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung keberlangsungan kehidupan.

Referensi

  1.  Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari , (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), Juz 8, h. 423.

Komentar 0