40 HADIS EKOTEOLOGI

KTI

Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Ekoteologi

Ekoteologi merupakan cara pandang yang menghubungkan ajaran agama dengan kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Kata ini gabungan dari ekologi (ilmu tentang lingkungan) dan teologi (ilmu tentang ketuhanan). Lalu, bagaimana hadis Nabi SAW memandang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan? Temukan jawabannya melalui koleksi hadis dalam aplikasi ini.

Foto Milda Yanti Putri

Tentang Penulis

Milda Yanti Putri

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS EKOTEOLOGI

Penyusun: Milda Yanti Putri

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Larangan Mencemari Air

Disusun oleh: Milda Yanti Putri (@mildaputri_) · Bagian dari 40 HADIS EKOTEOLOGI

Hadis

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ. (رواه مسلم: ٦٨٢)[١] 

Terjemahan

Hadis dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, ia bersabda: janganlah salah seorang di antaramu buang air kecil di air yang tergenang kemudian dia mandi di sana. (HR Muslim: 682)

Isi Kandungan

Hadis ini menjelaskan tentang Nabi SAW melarang membuang air kecil pada air yang tergenang. Air yang tergenang atau tidak mengalir memiliki kecenderungan untuk menampung berbagai zat atau benda yang masuk ke dalamnya, termasuk unsur pencemar maupun najis. Saat terjadi aktivitas seperti buang air kecil di tempat tersebut, maka besar kemungkinan air itu akan tercemar dan kehilangan sifat kesuciannya. Apabila air tersebut digunakan untuk keperluan kebersihan diri seperti mandi atau berwudu, maka bukannya memberikan efek penyucian, melainkan dapat menyebabkan tubuh terpapar najis dan menimbulkan penyakit. Oleh sebab itu, tindakan menghindari pembuangan limbah biologis seperti urine dan feses ke dalam air yang tidak mengalir merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan, kesucian, serta kebersihan lingkungan, terutama dalam konteks persiapan untuk beribadah.

Referensi

  1. Abu al-Husein Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Mesir: Maktabah al-Shafa, 2004), Juz 1, h. 162.

Komentar 0