40 HADIS PUASA

KTI

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ أَهْلًا وَسَهْلًا وَمَرْحَبًا بِكُمْ

Selamat datang, silahkan telusuri aplikasi ini untuk menemukan hadis-hadis seputar puasa. Terima Kasih

Foto Ali Sodikin

Tentang Penulis

Ali Sodikin

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

34 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS PUASA

Penyusun: Ali Sodikin

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Menyegerakan Berbuka

Disusun oleh: Ali Sodikin (@SODIKIN_aaa) · Bagian dari 40 HADIS PUASA

Hadis

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ:لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.(رَوَاهُ البُخَارِيُّ: ١٩٥٧)[1]

Terjemahan

Hadis dari Sahl ibn Sa'd al-Sa'idi Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. (HR. Bukhari 1957)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menegaskan anjuran untuk menyegerakan berbuka puasa ketika waktu Maghrib telah tiba, yaitu saat matahari benar-benar terbenam. Rasulullah SAW menyatakan bahwa manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menjaga sunnah ini. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “kebaikan” dalam hadis ini mencakup kebaikan dalam agama, seperti ketaatan kepada sunnah, serta kebaikan dalam kehidupan, seperti menjaga kesehatan dan kekuatan tubuh setelah menahan lapar dan haus.
Menyegerakan berbuka juga menunjukkan sikap patuh terhadap batasan waktu yang telah ditetapkan oleh syariat, sehingga seorang Muslim tidak menambah-nambah ibadah di luar ketentuan. Selain itu, hal ini menjadi pembeda dengan sebagian tradisi agama lain yang menunda berbuka hingga waktu gelap sempurna. Dalam praktiknya, menyegerakan berbuka tidak harus dengan makanan yang banyak, tetapi cukup dengan sesuatu yang ringan seperti kurma atau air, kemudian dilanjutkan dengan shalat. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan keseimbangan antara mengikuti sunnah, menjaga kesehatan, dan menunjukkan ketaatan yang tepat terhadap aturan waktu dalam ibadah puasa.

Referensi

  1. Muhammad bin Ismail Bin Ibrahim al-Bukhari, Al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar Min ’Umur Rasulillah Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam Wa Sunanihi Wa Ayyamihi (Bairūt: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2007).,h.473

Komentar 0