Hadis
حَدَّثَنَا أَبُو ظَبْيَانَ قَالَ: سَمِعْتُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُحَدِّثُ قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَقَالَ لِي: «يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟» قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا، قَالَ: «أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ أَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟» قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ : ٦٨٧٢)[1]
Terjemahan
Abu Zhabyan telah menceritakan kepada kami, ia berkata: aku mendengar Usamah bin Zaid bin Haritsah RA bercerita, ia berkata: Rasulullah SAW mengutus kami ke al-Huraqah dari Juhainah, lalu kami menyerang mereka pada pagi hari dan mengalahkan mereka. Ia berkata: aku dan seorang laki-laki dari kaum Ansar mengejar salah seorang dari mereka, maka ketika kami telah berhasil mendekatinya, ia mengucapkan: “Laa ilaaha illallah.” Maka orang Ansar itu menahan diri darinya, tetapi aku menusuknya dengan tombakku hingga aku membunuhnya. Ketika kami kembali, berita itu sampai kepada Nabi SAW, lalu beliau berkata kepadaku: “Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’?” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia hanya berlindung.” Beliau kembali bersabda: “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’?” Beliau terus mengulanginya kepadaku hingga aku berharap seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu. (HR al-Bukhari 6872)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan kisah yang sangat penting tentang kehati-hatian dalam menghukumi seseorang dalam keadaan peperangan. Diceritakan bahwa Usamah bin Zaid رضي الله عنه mengejar seorang musuh dalam suatu pertempuran, lalu ketika orang tersebut hampir tertangkap ia mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah”. Namun Usamah tetap membunuhnya karena mengira ucapan itu hanya sebagai bentuk perlindungan diri, bukan keimanan yang sungguh-sungguh. Ketika peristiwa itu sampai kepada Rasulullah SAW, beliau sangat mengingkari tindakan tersebut dan berulang kali bertanya kepada Usamah: “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa ilaaha illallah?” Pengulangan pertanyaan ini menunjukkan besarnya kesalahan dalam mengabaikan kemungkinan keislaman seseorang yang telah mengucapkan kalimat tauhid, meskipun dalam situasi perang. Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus sangat berhati-hati dalam menilai niat dan keimanan orang lain, serta tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan yang dapat menghilangkan nyawa. Selain itu, hadis ini menegaskan bahwa kalimat tauhid memiliki kedudukan yang sangat besar, sehingga tidak boleh diremehkan atau diabaikan dalam kondisi apa pun.
Referensi
- Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, al-Jami‘ al-Musnad as-Shahih, Kitab ad-Diyat, Bab Qaulillah Ta‘ala: Wa Man Yaqtul Mu’minan Muta‘ammidan, no hadis 6872, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), h. 436.
Komentar 0