40 HADIS QISAS

KTI

Selamat Datang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang kami ucapkan kepada para pembaca dalam tulisan yang berjudul “Hadis Digital” ini. Kehadiran Anda dalam membaca karya ini merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi penulis. Di era digital seperti saat ini, akses terhadap ilmu pengetahuan, termasuk hadis-hadis Nabi Muhammad saw., menjadi semakin mudah dan cepat. Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk menambah wawasan serta pemahaman kita tentang bagaimana memanfaatkan teknologi digital dalam mempelajari dan menyebarkan hadis secara bijak dan bertanggung jawab. Kami berharap pembaca dapat memperoleh manfaat, inspirasi, serta pengetahuan baru dari tulisan ini. Semoga kehadiran karya sederhana ini dapat memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kecintaan kita terhadap sunnah Rasulullah saw. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tentang Penulis

pahrulhajinst

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS QISAS

Penyusun: pahrulhajinst

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Kewajiban Qisas dan Anjuran Memaafkan

Disusun oleh: pahrulhajinst (@pahrulhajinst) · Bagian dari 40 HADIS QISAS

Hadis

عَنْ اَنَسٍ: أَنَّ الرُّبَيِّعَ وَهِيَ ابْنَةُ النَّضْرِ كَسَرَتْ ثَنِيَّةَ جَارِيَةٍ، فَطَلَبُوا الأَرْشَ وَطَلَبُوا العَفْوَ فَأَبَوْا، فَأَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَمَرَهُمْ بِالقِصَاصِ، فَقَالَ أَنَسُ بْنُ النَّضْرِ: أَتُكْسَرُ ثَنِيَّةُ الرُّبَيِّعِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ لَا تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا، فَقَالَ: «يَا أَنَسُ، كِتَابُ اللَّهِ القِصَاصُ». فَرَضِيَ القَوْمُ وَعَفَوْا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ». (رَوَاهُ البُخَارِيُّ: ٢٥٥٦)[1]

Terjemahan

 Hadis dari Anas bahwa Ar-Rubayyi’ binti An-Nadr mematahkan gigi seorang wanita lalu mereka menuntut diyat dan meminta maaf tetapi ditolak, kemudian mereka datang kepada Nabi  SAW dan beliau memerintahkan qiṣāṣ, maka Anas bin An-Nadr berkata apakah akan dipatahkan gigi Ar-Rubayyi’, lalu Nabi SAW bersabda bahwa Kitab Allah adalah qiṣāṣ, kemudian kaum itu ridha dan memaafkan, dan Nabi SAW  bersabda bahwa di antara hamba Allah ada yang jika bersumpah kepada Allah maka Allah akan mengabulkannya (HR  al-Bukhari  2556).

Isi Kandungan Hadis

Hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dari sahabat Anas bin Malik menjelaskan tentang kewajiban pelaksanaan qiṣāṣ sekaligus anjuran untuk memaafkan. Dalam peristiwa tersebut, Ar-Rubayyi' binti An-Nadr mematahkan gigi seorang wanita. Keluarga korban kemudian menuntut hak mereka, sehingga perkara itu dibawa kepada Rasulullah SAW . Nabi SAW  memutuskan agar qiṣāṣ dilaksanakan, karena hal itu merupakan ketentuan hukum Allah dalam menjaga keadilan. Ketika Anas bin An-Nadr merasa berat jika gigi Ar-Rubayyi’ harus dipatahkan sebagai balasan, Nabi  SAW menegaskan, “Kitab Allah adalah qiṣāṣ,” yang menunjukkan bahwa hukum qiṣāṣ merupakan ketetapan syariat yang wajib ditegakkan demi menegakkan keadilan dan menjaga hak korban. Namun, setelah keputusan qiṣāṣ ditetapkan, keluarga korban akhirnya memilih memaafkan. Sikap ini menunjukkan bahwa meskipun qiṣāṣ dibenarkan dan diwajibkan dalam hukum, Islam tetap sangat menganjurkan jalan maaf dan perdamaian. Pemaafan tersebut menjadi bentuk kemuliaan akhlak yang dapat menghilangkan permusuhan dan mempererat hubungan sosial. Oleh karena itu, syariat Islam memadukan antara keadilan melalui qiṣāṣ dan kasih sayang melalui anjuran memberi maaf. Pada akhir hadis, Nabi SAW  bersabda bahwa ada hamba Allah yang apabila bersumpah atas nama Allah maka Allah akan mengabulkannya. Para ulama menjelaskan bahwa ucapan ini merupakan pujian terhadap keyakinan dan ketulusan Anas bin An-Nadr. Hadis ini memberikan pelajaran bahwa hukum Allah harus ditegakkan dengan adil, tetapi dalam pelaksanaannya Islam tetap membuka ruang untuk memaafkan sebagai jalan yang lebih utama apabila dapat membawa kebaikan dan perdamaian.

Referensi

  1.    Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyamih, Kitab ad-Diyat, Bab Qaulillah Ta‘ala “Wa Katabna ‘Alaihim Fiha Anna an-Nafsa bi an-Nafs”, no hadis 2556, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), h. 26.

Komentar 0