Hadis tentang Bentuk Syirik karena Menyebut Manusia sebagai Raja Segala Raja
Hadis
عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ: هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا: وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَغْيَظُ رَجُلٍ عَلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَخْبَثُهُ، وَأَغْيَظُهُ عَلَيْهِ، رَجُلٌ كَانَ يُسَمَّى مَلِكَ الأَمْلَاكِ، لَا مَلِكَ إِلَّا اللَّهُ. (رواه مسلم: ٢١)[١]
Terjemahan
Hadis dari Hammam bin Munabbih, ia berkata: ini adalah hadis-hadis yang diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, lalu ia menyebutkan beberapa hadis, di antaranya: Rasulullah SAW bersabda: orang yang paling dimurkai oleh Allah SWT pada hari kiamat, yang paling buruk dan paling dimurkai oleh-Nya adalah seorang laki-laki yang menamakan dirinya Raja Segala Raja, padahal tidak ada raja (yang hakiki) selain Allah SWT. (HR Muslim: 21)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang ancaman murka yang teramat besar dan kehinaan di hari kiamat bagi orang yang menggunakan gelar nama "Malikal Amlak" (Raja Diraja / Maha Raja). Rasulullah SAW memberikan peringatan keras ini karena pemberian gelar tersebut mengandung unsur syirik dalam asma wa sifat. Menggunakan gelar yang bermakna "pemilik dari segala pemilik" atau "raja dari segala raja" merupakan bentuk kelancangan makhluk yang menyetarakan dirinya atau orang lain dengan keagungan Allah SWT. Mengingat hak kekuasaan mutlak alam semesta hanyalah milik Allah SWT semata, tidak boleh ada satu pun makhluk di bumi yang menyandang gelar kesombongan tersebut. Oleh karena itu, inti hadis ini melarang keras penggunaan nama atau julukan yang melampaui batas kedudukan manusia demi menjaga kemurnian tauhid dan adab kepada Allah SWT.
Referensi
- Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min al-Sunani bi Naql al-`Adl `an al-`Adl `an Rasulillah, Kitab al-Adab, Bab 4, Hadis nomor 21, (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, 1419 H/1998 M), h. 884.

Komentar 0