Hadis tentang Bentuk Syirik dalam Ucapan "Seandainya" terhadap Takdir
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ. (رواه مسلم: ٦٩٤٥)[١]
Terjemahan
Hadis dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah SWT, dan janganlah engkau lemah. Jika suatu musibah menimpamu, maka janganlah engkau berkata: seandainya aku melakukan begini, tentu akan begini dan begitu. Akan tetapi katakanlah: ini adalah takdir Allah SWT, dan apa yang dia kehendaki pasti terjadi. Karena sesungguhnya ucapan seandainya itu membuka pintu perbuatan setan. (HR Muslim: 6945)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang kewajiban seorang muslim untuk berikhtiar maksimal dan rida terhadap takdir Allah SWT, sekaligus memberikan peringatan keras bahwa ucapan "seandainya" saat ditimpa kegagalan bisa mengarah pada syirik asghar. Penggunaan kata tersebut mencerminkan penentangan terhadap ketetapan Allah SWT dan penyesalan yang tidak berguna, seolah-olah usaha manusia memiliki kendali mutlak atas masa lalu di luar kehendak-Nya. Sikap ini merusak Tauhid Rububiyah karena membuka pintu amalan setan berupa sifat tidak rida, sehingga seorang Muslim wajib menggantinya dengan kalimat tauhid "Qadarullahi wa maa syaa-a fa'ala" demi menjaga kemurnian akidah.
Referensi
- Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min al-Sunani bi Naql al-`Adl `an al-`Adl `an Rasulillah, Kitab al-Qadar, Bab 8, Hadis nomor 6945, (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, 1419 H/1998 M), h. 1069.

Komentar 0