40 HADIS SYIRIK

KTI

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat datang di aplikasi 40 hadis syirik. Semoga aplikasi ini menjadi wasilah untuk menambah ilmu yang bermanfaat, mengenali berbagai bentuk kesyirikan, serta menguatkan kita dalam menjaga kemurnian tauhid. Dan semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan meneguhkan kita di atas tauhid hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Foto AHMAD IFANDI

Tentang Penulis

AHMAD IFANDI

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SYIRIK

Penyusun: AHMAD IFANDI

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Praktik Ramalan Bintang yang Digunakan untuk Syirik

Disusun oleh: AHMAD IFANDI (@ahmadifandi_) · Bagian dari 40 HADIS SYIRIK

Hadis

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ. (رواه أبو داود: ٣٩٠٧)[١]

Terjemahan

Hadis dari Ibn Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: siapa yang mempelajari sebagian ilmu dari perbintangan, maka ia telah mengambil satu bagian dari sihir, semakin ia menambah ilmu itu, maka semakin bertambah pula bagian sihirnya. (HR Abu Dawud: 3907)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan tentang keharaman mempelajari ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal nasib, masa depan, atau kejadian ghaib di bumi. Rasulullah SAW menyamakan orang yang mengambil satu cabang ilmu nujum dengan orang yang mengambil satu cabang ilmu sihir, di mana sihir merupakan bagian dari dosa syirik akbar. Mengaitkan rasi bintang, zodiak, atau posisi planet dengan keberuntungan, jodoh, dan rezeki manusia adalah bentuk penyelewengan akidah karena mengklaim tahu perkara gaib yang merupakan hak mutlak milik Allah SWT. Oleh karena itu, inti hadis ini melarang keras segala bentuk kepercayaan pada ramalan bintang kontemporer demi menjaga kemurnian tauhid dari noda kesyirikan.

Referensi

  1. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy`ats al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Kitab al-Thibb, Bab 22, Hadis nomor 3907, (Kairo: Dar al-Ta`shil, 1436 H/2015 M), h, 822.

Komentar 0