Hadis tentang Praktik Ramalan Bintang yang Digunakan untuk Syirik
Hadis
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ. (رواه أبو داود: ٣٩٠٧)[١]
Terjemahan
Hadis dari Ibn Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: siapa yang mempelajari sebagian ilmu dari perbintangan, maka ia telah mengambil satu bagian dari sihir, semakin ia menambah ilmu itu, maka semakin bertambah pula bagian sihirnya. (HR Abu Dawud: 3907)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang keharaman mempelajari ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal nasib, masa depan, atau kejadian ghaib di bumi. Rasulullah SAW menyamakan orang yang mengambil satu cabang ilmu nujum dengan orang yang mengambil satu cabang ilmu sihir, di mana sihir merupakan bagian dari dosa syirik akbar. Mengaitkan rasi bintang, zodiak, atau posisi planet dengan keberuntungan, jodoh, dan rezeki manusia adalah bentuk penyelewengan akidah karena mengklaim tahu perkara gaib yang merupakan hak mutlak milik Allah SWT. Oleh karena itu, inti hadis ini melarang keras segala bentuk kepercayaan pada ramalan bintang kontemporer demi menjaga kemurnian tauhid dari noda kesyirikan.
Referensi
- Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy`ats al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Kitab al-Thibb, Bab 22, Hadis nomor 3907, (Kairo: Dar al-Ta`shil, 1436 H/2015 M), h, 822.

Komentar 0