40 HADIS SYIRIK

KTI

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat datang di aplikasi 40 hadis syirik. Semoga aplikasi ini menjadi wasilah untuk menambah ilmu yang bermanfaat, mengenali berbagai bentuk kesyirikan, serta menguatkan kita dalam menjaga kemurnian tauhid. Dan semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan meneguhkan kita di atas tauhid hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Foto AHMAD IFANDI

Tentang Penulis

AHMAD IFANDI

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SYIRIK

Penyusun: AHMAD IFANDI

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Menyetarakan Kehendak Makhluk dengan Allah SWT yang Mengarah kepada Syirik

Disusun oleh: AHMAD IFANDI (@ahmadifandi_) · Bagian dari 40 HADIS SYIRIK

Hadis

عَنْ حُذَيْفَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ. (رواه أبو داود: ٤٩٨٢)[١]

Terjemahan

Hadis dari Hudzaifah, dari Nabi SAW bersabda: janganlah kalian mengatakan: apa yang Allah SWT kehendaki dan si Fulan kehendaki, tetapi katakanlah: apa yang Allah SWT kehendaki, kemudian si Fulan kehendaki. (HR Abu Dawud: 4982)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan tentang kewajiban menjaga kemurnian tauhid melalui lisan dengan melarang ucapan yang menyetarakan kehendak makhluk dengan kehendak Allah SWT. Rasulullah SAW memberikan edukasi akidah bahwa penggunaan kata sambung "dan" (wawu al-athf) dalam kalimat "Atas kehendak Allah SWT dan kehendak Fulan" dapat mengarah pada syirik asghar karena secara tata bahasa menempatkan posisi makhluk sejajar dengan Allah SWT dalam mengatur sesuatu. Sebagai solusinya, hadis ini memerintahkan umat Islam untuk menggunakan kata sambung "kemudian" (tsumma) menjadi "Atas kehendak Allah SWT, kemudian kehendak Fulan", yang menegaskan bahwa kehendak manusia selalu berada di bawah, tunduk, dan mengikuti kehendak mutlak Allah SWT.

Referensi

  1. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy`ats al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Kitab al-Adab, Bab 76, Hadis nomor 4982, (Kairo: Dar al-Ta`shil, 1436 H/2015 M), h, 3951.

Komentar 0