Hadis tentang Menyetarakan Kehendak Makhluk dengan Allah SWT yang Mengarah kepada Syirik
Hadis
عَنْ حُذَيْفَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ. (رواه أبو داود: ٤٩٨٢)[١]
Terjemahan
Hadis dari Hudzaifah, dari Nabi SAW bersabda: janganlah kalian mengatakan: apa yang Allah SWT kehendaki dan si Fulan kehendaki, tetapi katakanlah: apa yang Allah SWT kehendaki, kemudian si Fulan kehendaki. (HR Abu Dawud: 4982)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang kewajiban menjaga kemurnian tauhid melalui lisan dengan melarang ucapan yang menyetarakan kehendak makhluk dengan kehendak Allah SWT. Rasulullah SAW memberikan edukasi akidah bahwa penggunaan kata sambung "dan" (wawu al-athf) dalam kalimat "Atas kehendak Allah SWT dan kehendak Fulan" dapat mengarah pada syirik asghar karena secara tata bahasa menempatkan posisi makhluk sejajar dengan Allah SWT dalam mengatur sesuatu. Sebagai solusinya, hadis ini memerintahkan umat Islam untuk menggunakan kata sambung "kemudian" (tsumma) menjadi "Atas kehendak Allah SWT, kemudian kehendak Fulan", yang menegaskan bahwa kehendak manusia selalu berada di bawah, tunduk, dan mengikuti kehendak mutlak Allah SWT.
Referensi
- Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy`ats al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Kitab al-Adab, Bab 76, Hadis nomor 4982, (Kairo: Dar al-Ta`shil, 1436 H/2015 M), h, 3951.

Komentar 0