40 HADIS SYIRIK

KTI

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat datang di aplikasi 40 hadis syirik. Semoga aplikasi ini menjadi wasilah untuk menambah ilmu yang bermanfaat, mengenali berbagai bentuk kesyirikan, serta menguatkan kita dalam menjaga kemurnian tauhid. Dan semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan meneguhkan kita di atas tauhid hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Foto AHMAD IFANDI

Tentang Penulis

AHMAD IFANDI

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SYIRIK

Penyusun: AHMAD IFANDI

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Syirik dalam Bersumpah dengan selain Nama Allah SWT

Disusun oleh: AHMAD IFANDI (@ahmadifandi_) · Bagian dari 40 HADIS SYIRIK

Hadis

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَا وَالْكَعْبَةِ. فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: لَا يُحْلَفُ بِغَيْرِ اللَّهِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. وَفُسِّرَ هَذَا الْحَدِيثُ عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ قَوْلَهُ: فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ عَلَى التَّغْلِيظِ. وَالْحُجَّةُ فِي ذَلِكَ حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ عُمَرَ يَقُولُ وَأَبِي وَأَبِي. فَقَالَ: أَلَا إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ. وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ قَالَ فِي حَلِفِهِ وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى فَلْيَقُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا مِثْلُ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ الرِّيَاءَ شِرْكٌ. وَقَدْ فَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذِهِ الآيَةَ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا الْاَيَةَ قَالَ لَا يُرَائِي. (رواه  الترمذي: ١٦٢٠)[١]

Terjemahan

Hadis dari Sa‘d bin ‘Ubaidah, bahwa Ibnu ‘Umar mendengar seseorang berkata: tidak, demi Ka‘bah. Maka Ibnu ‘Umar berkata: tidak boleh bersumpah dengan selain Allah SWT, karena sesungguhnya aku mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: siapa yang bersumpah dengan selain Allah SWT, maka sungguh ia telah kafir atau berbuat syirik. Abu ‘Isa berkata: hadis ini hasan. Hadis ini ditafsirkan oleh sebagian ulama bahwa sabda beliau telah kafir atau berbuat syirik adalah sebagai bentuk penegasan keras. Dalilnya adalah hadis Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi Muhammad SAW mendengar ‘Umar berkata: demi ayahku, demi ayahku. Maka Nabi SAW bersabda: ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT melarang kalian bersumpah dengan nenek moyang kalian. Dan hadis Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW bersabda: siapa yang dalam sumpahnya mengatakan: demi Lata dan ‘Uzza, maka hendaklah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Abu ‘Isa berkata: ini seperti hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, bahwa  Nabi SAW bersabda: sesungguhnya riya itu adalah syirik. Sebagian ulama menafsirkan ayat: siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh, mereka berkata: yaitu tidak berbuat riya. (HR al-Tirmidzi: 1620)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan tentang larangan tegas bagi seorang Muslim untuk bersumpah dengan selain nama Allah SWT, seperti demi Ka’bah, nenek moyang, atau berhala, karena sumpah mengandung bentuk pengagungan yang hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT. Ibnu ‘Umar menegaskan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar yang dapat mengarah pada kekufuran atau syirik, meskipun para ulama menjelaskan bahwa ancaman tersebut bersifat peringatan keras (taghlizh) dan tidak serta-merta mengeluarkan pelakunya dari Islam. Hal ini juga diperkuat dengan contoh Rasulullah SAW yang menegur Umar bin Khattab ketika bersumpah dengan selain Allah SWT, serta anjuran untuk segera mengucapkan kalimat tauhid jika terlanjur melakukannya. Secara keseluruhan, hadis ini menekankan pentingnya menjaga lisan dan kemurnian tauhid dalam setiap ucapan maupun niat, termasuk menjauhi riya yang juga merupakan bentuk syirik kecil.

Referensi

  1. Abu `Isa Muhammad bin `Isa bin Saurah al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Kitab al-Aiman wa al-Nudzur, Bab 8, Hadis nomor 1620, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1420 H/2000 M), h. 831.

Komentar 0