Hadis tentang Iman sebagai Amalan Utama
Hadis
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - سُئِلَ أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ (إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ). قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ (الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ). قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ(حَجٌّ مَبْرُورٌ).(رواه البخاري: ٢٦)[1]
Terjemahan
Hadis dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya: amalan apakah yang paling utama? ia menjawab: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu ditanyakan lagi: kemudian apa? ia menjawab: berjihad di jalan Allah. Lalu ditanyakan lagi: kemudian apa? ia menjawab: haji yang mabrur. (HR al-Bukhari: 26)
Isi Kansungan Hadis
Hadis tersebut menjelaskan urutan amalan yang paling utama dalam Islam berdasarkan tingkat keutamaannya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa amalan paling utama adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yang menjadi dasar dari seluruh ibadah dan kebaikan. Tanpa iman yang benar, amalan lain tidak memiliki nilai yang sempurna. Setelah itu, amalan yang paling utama adalah berjihad di jalan Allah, yang mencerminkan kesungguhan, pengorbanan, dan perjuangan dalam menegakkan agama, baik dengan tenaga, harta, maupun usaha lainnya. Kemudian, haji yang mabrur disebut sebagai amalan berikutnya, yaitu ibadah haji yang dilaksanakan dengan ikhlas, sesuai tuntunan, dan menghasilkan perubahan menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan bahwa keutamaan amal dalam Islam dimulai dari keimanan yang kuat, dilanjutkan dengan perjuangan di jalan Allah, dan disempurnakan dengan ibadah yang dilakukan secara ikhlas dan penuh ketaatan.
Referensi
- Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, Al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamih, (Damaskus: Dar Ibn Kathir, 2002), Juz 1, h. 18.

Komentar 0