40 HADIS IMAN

KTI

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat datang di aplikasi 40 Hadis Iman, silahkan telusuri aplikasi untuk menemukan beragam ilmu yang bermanfaat. Terima kasih.

Foto Susan Safitri

Tentang Penulis

Susan Safitri

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS IMAN

Penyusun: Susan Safitri

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Malu Bagian dari Iman

Disusun oleh: Susan Safitri (@susansafitri) · Bagian dari 40 HADIS IMAN

Hadis 

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ.(رواه البخاري:٢٤)[1]

Terjemahan

Hadis dari Salim bin Abdillah, dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW pernah melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberikan arahan kepada saudaranya tentang rasa malu. Maka Rasulullah SAW bersabda:"biarkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman." (HR. al-Bukhari, no: 24)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan bahwa rasa malu merupakan salah satu cabang dan tanda kesempurnaan iman dalam diri seorang Muslim. Malu yang dimaksud adalah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan maksiat, menjaga kehormatan diri, serta melakukan kebaikan sesuai tuntunan agama. Ketika Rasulullah SAW mendengar seorang sahabat Anshar menegur saudaranya karena dianggap terlalu pemalu, beliau justru membiarkannya dan menegaskan bahwa sifat malu tersebut merupakan bagian dari iman. Hal ini menunjukkan bahwa rasa malu yang terpuji bukanlah kelemahan, melainkan akhlak mulia yang dapat menjadi benteng dari perbuatan tercela dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya memelihara dan menumbuhkan sifat malu yang sesuai dengan syariat sebagai wujud keimanan yang kuat.

Referensi

  1. Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min al-Sunani bi Naql al-`Adl `an al-`Adl `an Rasulillah, (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, 1419 H/1998 M), Juz 1, h. 17.

Komentar 0