Hadis tentang Malu Bagian dari Iman
Hadis
عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ.(رواه البخاري:٢٤)[1]
Terjemahan
Hadis dari Salim bin Abdillah, dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW pernah melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberikan arahan kepada saudaranya tentang rasa malu. Maka Rasulullah SAW bersabda:"biarkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman." (HR. al-Bukhari, no: 24)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa rasa malu merupakan salah satu cabang dan tanda kesempurnaan iman dalam diri seorang Muslim. Malu yang dimaksud adalah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan maksiat, menjaga kehormatan diri, serta melakukan kebaikan sesuai tuntunan agama. Ketika Rasulullah SAW mendengar seorang sahabat Anshar menegur saudaranya karena dianggap terlalu pemalu, beliau justru membiarkannya dan menegaskan bahwa sifat malu tersebut merupakan bagian dari iman. Hal ini menunjukkan bahwa rasa malu yang terpuji bukanlah kelemahan, melainkan akhlak mulia yang dapat menjadi benteng dari perbuatan tercela dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya memelihara dan menumbuhkan sifat malu yang sesuai dengan syariat sebagai wujud keimanan yang kuat.
Referensi
- Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min al-Sunani bi Naql al-`Adl `an al-`Adl `an Rasulillah, (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, 1419 H/1998 M), Juz 1, h. 17.

Komentar 0