Hadis tentang Perubahan Kiblat sebagai Ujian Keimanan
Hadis
عَنِ الْبَرَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ أَوَّلَ مَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ نَزَلَ عَلَى أَجْدَادِهِ أَوْ قَالَ أَخْوَالِهِ مِنَ الأَنْصَارِ، وَأَنَّهُ صَلَّى قِبَلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا، أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وَكَانَ يُعْجِبُهُ أَنْ تَكُونَ قِبْلَتُهُ قِبَلَ الْبَيْتِ، وَأَنَّهُ صَلَّى أَوَّلَ صَلاَةٍ صَلاَّهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ، وَصَلَّى مَعَهُ قَوْمٌ، فَخَرَجَ رَجُلٌ مِمَّنْ صَلَّى مَعَهُ، فَمَرَّ عَلَى أَهْلِ مَسْجِدٍ، وَهُمْ رَاكِعُونَ فَقَالَ أَشْهَدُ بِاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قِبَلَ مَكَّةَ، فَدَارُوا كَمَا هُمْ قِبَلَ الْبَيْتِ، وَكَانَتِ الْيَهُودُ قَدْ أَعْجَبَهُمْ إِذْ كَانَ يُصَلِّى قِبَلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، وَأَهْلُ الْكِتَابِ، فَلَمَّا وَلَّى وَجْهَهُ قِبَلَ الْبَيْتِ أَنْكَرُوا ذَلِكَ. قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنِ الْبَرَاءِ فِى حَدِيثِهِ هَذَا أَنَّهُ مَاتَ عَلَى الْقِبْلَةِ قَبْلَ أَنْ تُحَوَّلَ رِجَالٌ وَقُتِلُوا، فَلَمْ نَدْرِ مَا نَقُولُ فِيهِمْ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى (وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ).(رواه البخاري:٤٠)[1]
Terjemahan
Hadis dari Al-Bara' ia berkata: ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali tiba di Madinah, ia singgah di tempat kakek-kakek atau paman-paman dari pihak ibu beliau yang berasal dari kaum Anshar. Ia melaksanakan salat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Namun, ia sangat menginginkan agar kiblatnya diarahkan ke Ka'bah. Salat pertama yang ia lakukan setelah perubahan kiblat adalah salat Asar. Beberapa orang salat bersama ia. Kemudian salah seorang dari mereka melewati sebuah masjid yang jamaahnya sedang rukuk, lalu berkata, aku bersaksi demi Allah, sungguh aku baru saja salat bersama Rasulullah SAW menghadap Makkah.' Maka mereka segera berputar menghadap Ka'bah dalam keadaan salat. Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab sebelumnya menyukai ketika Nabi menghadap Baitul Maqdis. Namun, ketika beliau mengalihkan wajahnya ke Ka'bah, mereka mengingkari hal itu."Zuhair berkata: Abu Ishaq meriwayatkan dari Al-Bara' dalam hadis ini bahwa beberapa sahabat telah meninggal dunia dan gugur sebelum kiblat dialihkan. Kaum Muslimin tidak mengetahui bagaimana kedudukan salat mereka. Lalu Allah menurunkan firman-Nya: 'Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.' (QS. Al-Baqarah: 143)."(HR. Al-Bukhari, no: 40)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah merupakan perintah Allah yang menjadi ujian bagi keimanan dan ketaatan kaum muslimin. Para sahabat segera mematuhi perintah tersebut tanpa keraguan, bahkan ketika sedang melaksanakan salat. Hadis ini juga menunjukkan bahwa keimanan sejati diwujudkan melalui kepatuhan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, Allah menegaskan bahwa amal ibadah yang telah dilakukan sebelum perubahan kiblat tidak sia-sia, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 143. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan pentingnya ketaatan, keyakinan terhadap ketetapan Allah, serta kepercayaan bahwa setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan memperoleh balasan dari-Nya.
Referensi
- Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, Al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamih, (Damaskus: Dar Ibn Kathir, 2002), Juz 1, h. 80.

Komentar 0