Hadis tentang Doa Nabi Untuk Senantiasa Bersyukur
Hadis
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ. (رَوَاهُ النَّسَائِيِّ: ١٢٨٧)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Syaddad bin Aus bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam shalatnya: “Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam menghadapi semua urusan dan tekad yang kuat dalam mencari kebenaran, aku memohon kepada-Mu untuk senantiasa mensyukuri nikmat-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang senantiasa jujur, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau ketahui dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui, aku memohon ampun-Mu terhadap segala kesalahan yang Engkau ketahui.” (HR. Nasa’i 1287).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa kemampuan untuk bersyukur merupakan anugerah yang patut dimohonkan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menjadikan rasa syukur sebagai salah satu doa yang beliau panjatkan dalam shalat, menunjukkan bahwa syukur tidak hanya bergantung pada kehendak manusia, tetapi juga memerlukan pertolongan dan bimbingan dari Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa memohon agar diberi hati yang mampu mengenali nikmat-Nya dan kekuatan untuk mensyukurinya. Selain itu, hadis ini menunjukkan bahwa syukur memiliki hubungan yang erat dengan keteguhan iman, ibadah yang baik, hati yang bersih, dan lisan yang jujur. Seseorang yang bersyukur akan terdorong untuk memanfaatkan nikmat Allah SWT dalam ketaatan serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Dengan demikian, doa ini mengajarkan bahwa kesempurnaan syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui hati yang ikhlas, amal saleh, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi
1. Abū ‘Abd al-Raḥmān Aḥmad bin Syu‘aib al-Nasā’ī, Sunan al-Nasā’ī (Riyadh: Dār al-Salām, 2000), Juz 2, h. 189.

Komentar 0