40 HADIS SYUKUR

KTI

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur

Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur menyajikan kumpulan hadis pilihan mengenai syukur kepada Allah SWT. Aplikasi ini membantu pengguna memahami keutamaan, manfaat, dan cara menerapkan sikap syukur dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW.

Tentang Penulis

M. Farhan Maulana

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SYUKUR

Penyusun: M. Farhan Maulana

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Bersyukur Karena Tidak Disibukkan Oleh Urusan Dunia dari Ibadah

Disusun oleh: M. Farhan Maulana (@Farhan) · Bagian dari 40 HADIS SYUKUR

Hadis

حَدَّثَنَا أَبُو قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي سَفَرٍ لَهُ فَمَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِلْتُ مَعَهُ فَقَالَ انْظُرْ فَقُلْتُ هَذَا رَاكِبٌ هَذَانِ رَاكِبَانِ هَؤُلَاءِ ثَلَاثَةٌ حَتَّى صِرْنَا سَبْعَةً فَقَالَ احْفَظُوا عَلَيْنَا صَلَاتَنَا يَعْنِي صَلَاةَ الْفَجْرِ فَضُرِبَ عَلَى آذَانِهِمْ فَمَا أَيْقَظَهُمْ إِلَّا حَرُّ الشَّمْسِ فَقَامُوا فَسَارُوا هُنَيَّةً ثُمَّ نَزَلُوا فَتَوَضَّئُوا وَأَذَّنَ بِلَالٌ فَصَلَّوْا رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ ثُمَّ صَلَّوْا الْفَجْرَ وَرَكِبُوا فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ قَدْ فَرَّطْنَا فِي صَلَاتِنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَا تَفْرِيطَ فِي النَّوْمِ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ فَإِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ عَنْ صَلَاةٍ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَذْكُرُهَا وَمِنْ الْغَدِ لِلْوَقْتِ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ شَيْبَانَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ سُمَيْرٍ قَالَ قَدِمَ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَبَاحٍ الْأَنْصَارِيُّ مِنْ الْمَدِينَةِ وَكَانَتْ الْأَنْصَارُ تُفَقِّهُهُ فَحَدَّثَنَا قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيُّ فَارِسُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَيْشَ الْأُمَرَاءِ بِهَذِهِ الْقِصَّةِ قَالَ فَلَمْ تُوقِظْنَا إِلَّا الشَّمْسُ طَالِعَةً فَقُمْنَا وَهِلِينَ لِصَلَاتِنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُوَيْدًا رُوَيْدًا حَتَّى إِذَا تَعَالَتْ الشَّمْسُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَرْكَعُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَلْيَرْكَعْهُمَا فَقَامَ مَنْ كَانَ يَرْكَعُهُمَا وَمَنْ لَمْ يَكُنْ يَرْكَعُهُمَا فَرَكَعَهُمَا ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُنَادَى بِالصَّلَاةِ فَنُودِيَ بِهَا فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِنَا فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ أَلَا إِنَّا نَحْمَدُ اللَّهَ أَنَّا لَمْ نَكُنْ فِي شَيْءٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا يَشْغَلُنَا عَنْ صَلَاتِنَا وَلَكِنَّ أَرْوَاحَنَا كَانَتْ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَأَرْسَلَهَا أَنَّى شَاءَ فَمَنْ أَدْرَكَ مِنْكُمْ صَلَاةَ الْغَدَاةِ مِنْ غَدٍ صَالِحًا فَلْيَقْضِ مَعَهَا مِثْلَهَا حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ ابْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ فِي هَذَا الْخَبَرِ قَالَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَبَضَ أَرْوَاحَكُمْ حَيْثُ شَاءَ وَرَدَّهَا حَيْثُ شَاءَ قُمْ فَأَذِّنْ بِالصَّلَاةِ فَقَامُوا فَتَطَهَّرُوا حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَتْ الشَّمْسُ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا عَبْثَرٌ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ قَالَ فَتَوَضَّأَ حِينَ ارْتَفَعَتْ الشَّمْسُ فَصَلَّى بِهِمْ .(رَوَاهُ أَبِي دَاوُدَ: ٣٧٢)[1]

Terjemahan

Hadis ini dari Abu Qatadah telah menceritakan kepada kami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan suatu safar lalu beliau menyimpang dari jalan dan aku pun mengikuti beliau, lalu beliau bersabda: “Lihatlah apakah engkau melihat seseorang?” Saya berkata: Ada seorang penunggang kuda, dua, dan tiga hingga kami berjalan bertujuh, lalu beliau bersabda: “Jagalah shalat kita yaitu shalat Fajar.” Lalu telinga-telinga mereka tertutupi sehingga tidak ada yang membangunkan mereka kecuali panasnya matahari, kemudian mereka berjalan sebentar lalu singgah di suatu tempat dan berwudhu, Bilal mengumandangkan adzan kemudian mereka shalat sunnah dua rakaat sebelum fajar lalu shalat fajar dan berjalan kembali, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Kita telah lalai dalam shalat kita, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada sikap lalai dalam tidur, sesungguhnya kelalaian itu hanya ada ketika terjaga, apabila salah seorang di antara kalian lupa shalat maka shalatlah ketika dia ingat pada waktu yang sama di keesokan harinya.” Ali bin Nadlr telah menceritakan kepada kami, Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami, Al Aswad bin Syaiban telah menceritakan kepada kami, Khalid bin Sumair berkata: Abdullah bin Rabah Al Anshari datang kepada kami dari Madinah dan orang-orang Anshar menganggapnya sebagai orang yang faqih, lalu dia menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Qatadah Al Anshari penunggang kuda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus pasukan para pemimpin dengan kisah ini, ia berkata: Tidak ada yang membangunkan kami kecuali matahari yang telah terbit tinggi maka kami bangun sangat kaget dan takut karena belum shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pelan-pelanlah,” hingga tatkala matahari telah meninggi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang mau shalat sunnah dua rakaat fajar silahkan melakukannya,” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan adzan shalat kemudian beliau shalat mengimami kami, seusai shalat beliau bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya kita bersyukur kepada Allah karena tidak sedang berada pada urusan dunia yang menyibukkan kita dari shalat akan tetapi ruh-ruh kita ada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Dia membebaskannya kapan Dia mau, barangsiapa di antara kalian yang mendapatkan shalat subuh di esok hari maka qadla’lah ia bersamanya.” Amr bin Aun telah menceritakan kepada kami, Khalid telah mengabarkan kepada kami dari Hushain dari Ibnu Abu Qatadah dari Abu Qatadah dalam hadits ini, ia menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menggenggam ruh-ruh kalian sesuai dengan kehendak-Nya dan melepaskannya sesuai dengan kehendak-Nya, bangkit dan kumandangkanlah adzan shalat,” maka mereka bangkit dan bersuci hingga tatkala matahari telah meninggi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan shalat mengimami para sahabat. Hannad telah menceritakan kepada kami, ‘Abtsar telah menceritakan kepada kami dari Hushain dari Abdullah bin Abu Qatadah dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan makna yang sama, ia menyebutkan bahwa beliau berwudhu tatkala matahari telah meninggi kemudian shalat mengimami mereka. (HR. Abu Daud 372).

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seseorang yang tertidur hingga terlewat waktu salat tanpa disengaja tidak termasuk orang yang lalai, karena kelalaian yang sebenarnya adalah meninggalkan salat dengan sengaja ketika telah sadar dan memiliki kesempatan untuk melaksanakannya. Oleh sebab itu, siapa pun yang tertidur atau lupa mengerjakan salat diperintahkan untuk segera menunaikannya ketika telah ingat. Keteladanan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam hadis ini menunjukkan pentingnya tetap menjaga salat meskipun harus mengqadanya sesuai tuntunan syariat. Selain itu, hadis ini menunjukkan salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT, yaitu mengakui bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Setelah bangun dari tidur, Rasulullah SAW memuji dan bersyukur kepada Allah karena keterlambatan mereka melaksanakan salat bukan disebabkan oleh kesibukan urusan dunia, melainkan karena Allah SWT menahan dan mengembalikan ruh mereka sesuai dengan kehendak-Nya. Sikap ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya senantiasa berprasangka baik kepada Allah, menerima ketetapan-Nya dengan lapang dada, serta tetap bersegera melaksanakan kewajiban ketika memiliki kesempatan. Dengan demikian, hadis ini menanamkan nilai syukur, tanggung jawab dalam menjaga ibadah, serta keyakinan bahwa segala urusan berada di bawah kekuasaan Allah SWT.

Referensi

1. Abū Dāwūd Sulaimān bin al-Asy‘ats al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwūd (Beirut: al-Maktabah al-‘Aṣriyyah, 1994), Juz 1, h. 101.

Komentar 0