Hadis tentang Memuji Pemberi Sebagai Bentuk Syukur
Hadis
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ بِهِ فَمَنْ أَثْنَى بِهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَمَنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ شُرَحْبِيلَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ شُرَحْبِيلُ يَعْنِي رَجُلًا مِنْ قَوْمِي كَأَنَّهُمْ كَرِهُوهُ فَلَمْ يُسَمُّوهُ. (رَوَاهُ أَبِي دَاوُدَ: ٤١٧٩)[1]
Terjemahan
Hadis dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “siapa yang diberi suatu pemberian kemudian ia mempunyai sesuatu hendaklah ia membalas memberinya, jika tidak mempunyai sesuatu hendaklah ia memujinya. Siapa yang memujinya (si pemberi) berarti ia telah bersyukur, dan siapa yang menutupinya maka ia telah mengkufurinya (nikmat).” Abu Dawud berkata: “Yahya bin Ayyub meriwayatkannya dari Umarah bin Ghaziyah, dari Syurahbil, dari Jabir.” Abu Dawud berkata: “Syurahbil adalah seorang laki-laki dari kaumku, tetapi seakan-akan mereka membencinya hingga tidak bersedia menyebut namanya.” (HR. Abu Daud 4179).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengajarkan bahwa syukur tidak hanya ditujukan kepada Allah SWT, tetapi juga diwujudkan dengan menghargai kebaikan sesama manusia. Seseorang yang menerima suatu pemberian dianjurkan untuk membalasnya apabila memiliki kemampuan. Apabila belum mampu membalas dengan pemberian yang serupa, ia tetap dapat menunjukkan rasa syukur melalui ucapan terima kasih, pujian yang baik, atau doa bagi orang yang telah berbuat baik kepadanya. Dengan demikian, setiap kebaikan akan dihargai sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Selain itu, hadis ini menegaskan bahwa mengabaikan atau tidak menghargai kebaikan orang lain merupakan bentuk kufur nikmat, yaitu tidak mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan melalui perantara manusia. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya membiasakan diri untuk mengapresiasi setiap kebaikan yang diterimanya, baik dengan balasan yang setimpal maupun dengan ucapan yang baik. Sikap tersebut akan menumbuhkan rasa syukur, mempererat hubungan antarsesama, serta mencerminkan akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam.
Referensi
1. Abū Dāwud Sulaimān bin al-Asy‘ats al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwud (Beirut: Dār al-Fikr, 1994), Juz 4, h. 352.

Komentar 0