40 HADIS SYUKUR

KTI

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur

Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur menyajikan kumpulan hadis pilihan mengenai syukur kepada Allah SWT. Aplikasi ini membantu pengguna memahami keutamaan, manfaat, dan cara menerapkan sikap syukur dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW.

Tentang Penulis

M. Farhan Maulana

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SYUKUR

Penyusun: M. Farhan Maulana

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Kunci Menjadi Hamba yang Bersyukur dan Penyabar

Disusun oleh: M. Farhan Maulana (@Farhan) · Bagian dari 40 HADIS SYUKUR

Hadis

عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خَصْلَتَانِ مَنْ كَانَتَا فِيهِ كَتَبَهُ اللَّهُ شَاكِرًا صَابِرًا وَمَنْ لَمْ تَكُونَا فِيهِ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا مَنْ نَظَرَ فِي دِينِهِ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَاقْتَدَى بِهِ وَمَنْ نَظَرَ فِي دُنْيَاهُ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا فَضَّلَهُ بِهِ عَلَيْهِ كَتَبَهُ اللَّهُ شَاكِرًا صَابِرًا وَمَنْ نَظَرَ فِي دِينِهِ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ وَنَظَرَ فِي دُنْيَاهُ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَأَسِفَ عَلَى مَا فَاتَهُ مِنْهُ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ حِزَامٍ الرَّجُلُ الصَّالِحُ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَقَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا الْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَلَمْ يَذْكُرْ سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِيهِ. (رَوَاهُ التِّرْمِذِيِّ: ٢٤٣٦)[1]

Terjemahan

Hadis ini dari kakeknya Abdullah bin Amru, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua perkara yang barangsiapa memilikinya maka Allah akan mencatat dia sebagai seorang yang pandai bersyukur dan penyabar, dan barangsiapa tidak memiliki keduanya maka Allah tidak mencatat dia sebagai seorang yang pandai bersyukur dan penyabar, yaitu barangsiapa yang melihat agamanya dengan orang yang lebih tinggi darinya lalu dia mengikutinya, dan barangsiapa yang melihat dunianya dengan orang yang paling rendah darinya lalu dia memuji Allah atas karunia yang diberikan kepadanya maka Allah akan mencatat dia sebagai seorang yang pandai bersyukur dan penyabar, namun barangsiapa yang melihat agamanya dengan orang yang lebih rendah darinya dan melihat dunianya dengan orang yang lebih tinggi darinya dan dia bersedih atas dunia yang tidak didapatkannya maka Allah tidak mencatatnya sebagai seorang yang pandai bersyukur dan penyabar.” Musa bin Hizam telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ishaq telah mengkhabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Al Mubarak telah bercerita kepada kami dari Al Mutsanna bin As Shabbah dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hadits yang semakna dengannya. Abu Isa berkata: Hadits ini hasan gharib, sementara Suwaid bin Nashr tidak menyebut dalam haditsnya lafadz: dari bapaknya. (HR. Tirmidzi 2436).

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini mengajarkan bahwa syukur dan sabar dapat dibangun melalui cara pandang yang benar terhadap urusan agama dan kehidupan dunia. Rasulullah SAW menganjurkan agar seorang muslim melihat orang yang lebih baik dalam urusan agama sebagai teladan sehingga termotivasi untuk meningkatkan kualitas iman, ibadah, dan akhlaknya. Sebaliknya, dalam urusan dunia, seorang muslim dianjurkan melihat orang yang keadaannya berada di bawahnya agar lebih mudah menyadari besarnya nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan. Sikap ini akan melahirkan rasa syukur, qanaah, serta menjauhkan diri dari sifat iri dan tamak terhadap kenikmatan dunia. Sebaliknya, hadis ini memperingatkan agar seseorang tidak merasa puas dengan kualitas agamanya hanya karena membandingkan dirinya dengan orang yang lebih rendah, serta tidak terus-menerus membandingkan urusan dunianya dengan orang yang lebih kaya atau lebih berkecukupan. Cara pandang seperti itu dapat menimbulkan rasa tidak puas, keluh kesah, dan melemahkan syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya senantiasa berusaha meningkatkan kualitas agamanya, menerima rezeki dengan penuh qanaah, serta memuji Allah SWT atas setiap karunia yang diberikan-Nya. Dengan demikian, ia akan termasuk ke dalam golongan hamba yang bersyukur dan bersabar sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW.

Referensi

1. Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), Juz 4, h. 562.

Komentar 0