Hadis tentang Bahaya Kesombongan dan Pentingnya Bersyukur kepada Allah SWT
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ يَحْفِرُونَ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى إِذَا كَادُوا يَرَوْنَ شُعَاعَ الشَّمْسِ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ ارْجِعُوا فَسَنَحْفِرُهُ غَدًا فَيُعِيدُهُ اللَّهُ أَشَدَّ مَا كَانَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ مُدَّتُهُمْ وَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَهُمْ عَلَى النَّاسِ حَفَرُوا حَتَّى إِذَا كَادُوا يَرَوْنَ شُعَاعَ الشَّمْسِ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ ارْجِعُوا فَسَتَحْفِرُونَهُ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى وَاسْتَثْنَوْا فَيَعُودُونَ إِلَيْهِ وَهُوَ كَهَيْئَتِهِ حِينَ تَرَكُوهُ فَيَحْفِرُونَهُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى النَّاسِ فَيُنْشِفُونَ الْمَاءَ وَيَتَحَصَّنُ النَّاسُ مِنْهُمْ فِي حُصُونِهِمْ فَيَرْمُونَ بِسِهَامِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ فَتَرْجِعُ عَلَيْهَا الدَّمُ الَّذِي اجْفَظَّ فَيَقُولُونَ قَهَرْنَا أَهْلَ الْأَرْضِ وَعَلَوْنَا أَهْلَ السَّمَاءِ فَيَبْعَثُ اللَّهُ نَغَفًا فِي أَقْفَائِهِمْ فَيَقْتُلُهُمْ بِهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ دَوَابَّ الْأَرْضِ لَتَسْمَنُ وَتَشْكَرُ شَكَرًا مِنْ لُحُومِهِمْ. (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ: ٤٠٧٠)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Abu Hurairah dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj menggali lubang setiap harinya. Ketika mereka nyaris melihat cahaya matahari, maka yang mengusai mereka berseru, 'Kembalilah, kita akan menggalinya esok hari.' Maka Allah mengembalikannya melebihi dari yang sebelumnya. Dan ketika masa mereka telah sampai, dan Allah hendak mengirim mereka kepada manusia, maka mereka kembali menggali sampai ketika mereka nyaris melihat cahaya matahari, maka salah satu dari yang mengusai mereka berseru, 'Kembalilah, kalian akan menggalinya esok hari, jika Allah mengizinkan.' Maka mereka menunggu, lalu mereka kembali lagi ke tempat penggalian yang bentuknya masih seperti semula disaat mereka meninggalkannya. Maka mereka terus menggalinya dan akhirnya mereka dapat keluar kepada manusia. Lantas mereka menghirup air, dan manusia pun berlindung dari mereka di benteng-benteng. Lalu mereka melemparkan anak panah mereka ke langit, maka anak panah itu kembali dengan berlumuran darah. Maka mereka berkata: 'Kami telah menundukkan penduduk bumi, dan kami juga telah menguasai penduduk langit.' Setelah itu Allah mengutus sekelompok ulat di kepala mereka, lalu Allah membunuh mereka dengan binatang tersebut." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bintang-binatang bumi akan menjadi gemuk dan bersyukur berkat daging-daging mereka." (HR. Ibnu Majah 4070).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa keluarnya Ya'juj dan Ma'juj merupakan salah satu tanda besar hari kiamat yang pasti akan terjadi sesuai dengan ketetapan Allah SWT. Meskipun mereka terus berusaha menggali dinding setiap hari, usaha tersebut selalu gagal karena Allah SWT mengembalikannya seperti semula. Mereka baru dapat keluar ketika Allah menghendaki dan pemimpin mereka mengucapkan "insyaallah", yang menunjukkan pentingnya menyandarkan setiap rencana kepada kehendak Allah SWT. Hadis ini juga mengajarkan bahwa seorang muslim wajib mengimani perkara gaib yang telah diberitakan oleh Rasulullah SAW. sebagai bagian dari keimanan kepada Allah SWT dan hari akhir. Selain itu, hadis ini mengandung pelajaran tentang bahaya kesombongan dan besarnya kekuasaan Allah SWT. Setelah berhasil keluar, Ya'juj dan Ma'juj menjadi sombong dengan menganggap telah menguasai bumi dan langit. Namun, Allah SWT membinasakan mereka melalui makhluk yang sangat kecil, yaitu naghaf (sejenis ulat), sebagai bukti bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menandingi kekuasaan-Nya. Hadis ini juga mengajarkan pentingnya berikhtiar dan bertawakal ketika menghadapi bahaya, sebagaimana manusia berlindung di benteng-benteng. Setelah kebinasaan Ya'juj dan Ma'juj, Allah SWT menjadikan bangkai mereka sebagai sumber makanan bagi hewan-hewan, sehingga menunjukkan bahwa Allah SWT Mahakuasa mendatangkan manfaat setelah berakhirnya suatu musibah.
Referensi
1. Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Shahih al-Bukhārī (Riyadh: Dār al-Salām, 1999), Juz 4, h. 1560.

Komentar 0