40 HADIS HIJRAH

KTI

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat datang, silakan telusuri aplikasi ini, semoga bermanfaat dan menambah ilmu.

Foto Habib Al Ruffi

Tentang Penulis

Habib Al Ruffi

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS HIJRAH

Penyusun: Habib Al Ruffi

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Hijrah dalam Ketaatan Sosial

Disusun oleh: Habib Al Ruffi (@habibal_ruffi) · Bagian dari 40 HADIS HIJRAH

Hadis

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ عَلَيْهِ وَلاَ طَاعَةَ ».(رواه الترمذي: ١٧٠٧)[١] 

Terjemahan

Hadis dari Ibn Umar, yang berkata: Rasulullah SAW bersabda: “mendengar dan menaati adalah kewajiban seorang muslim dalam hal yang disukai dan tidak disukainya, selama ia tidak diperintahkan untuk membangkang. Jika ia diperintahkan untuk membangkang, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar dan menaati.” (HR al-Tirmidzi: 1707)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan kewajiban seorang muslim untuk mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang sesuai dengan ajaran Islam. Ketaatan tersebut berlaku baik terhadap hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukai, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Allah. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga ketertiban, persatuan, dan stabilitas dalam kehidupan bermasyarakat. Hadis ini juga mengajarkan sikap disiplin dan tanggung jawab dalam menjalankan aturan yang sah. Seorang muslim tidak boleh hanya taat ketika perintah sesuai dengan keinginannya, tetapi juga ketika perintah tersebut dirasa berat atau kurang disukai, selama tetap berada dalam batas-batas yang dibenarkan oleh agama. Selain itu, hadis ini menegaskan bahwa ketaatan kepada manusia tidak bersifat mutlak.

Referensi

  1. Abū ʿĪsā Muḥammad ibn ʿĪsā al-Tirmiżī, Sunan Tirmidzi. (Beirut: Dar al-Fikr, 1994). Juz 4, h. 209.

Komentar 0