Hadis tentang Hijrah Sahabat dengan Keikhlasan
Hadis
حَدَّثَنَا خَبَّابٌ - رضى الله عنه - قَالَ هَاجَرْنَا مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - نَلْتَمِسُ وَجْهَ اللَّهِ, فَوَقَعَ أَجْرُنَا عَلَى اللَّهِ, فَمِنَّا مَنْ مَاتَ لَمْ يَأْكُلْ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا مِنْهُمْ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ, وَمِنَّا مَنْ أَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهْدِبُهَا قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ, فَلَمْ نَجِدْ مَا نُكَفِّنُهُ إِلاَّ بُرْدَةً إِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رَأْسَهُ خَرَجَتْ رِجْلاَهُ, وَإِذَا غَطَّيْنَا رِجْلَيْهِ خَرَجَ رَأْسُهُ, فَأَمَرَنَا النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - أَنْ نُغَطِّىَ رَأْسَهُ, وَأَنْ نَجْعَلَ عَلَى رِجْلَيْهِ مِنَ الإِذْخِرِ. (رواه البخاري: ١٢٧٦)[١]
Terjemahan
Khabab RA berkata: kami berhijrah bersama SAW dengan hanya mengharapkan ridha Allah dan kami telah mendapatkan pahala di sisi Allah. Lalu diantara kami ada yang meninggal lebih dahulu sebelum menikmati pahalanya sedikitpun (di dunia ini), diantaranya adalah Mus'ab bin Umair. Dan diantara kami ada yang buah (perjuangannya) sudah masak lalu dia memetiknya dengan terbunuh sebagai syahid di medan Perang Uhud namun kami tidak mendapatkan kain untuk mengafaninya kecuali burdah (kain bergaris) yang kain tersebut bila kami gunakan untuk menutup kepalanya, kakinya terbuka dan bila kakinya yang hendak kami tutup kepalanyalah yang terbuka. Maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menutup kepalanya dengan kain tersebut sedangkan kakinya kami tutup dengan dedaunan. (HR al-Bukhari: 1276)
Isi Kandungan Hadis
Hadis Bukhari No 1276 yang diriwayatkan oleh Khabab bin al-Aratt ini menggambarkan ketulusan dan pengorbanan para sahabat dalam berhijrah bersama Nabi Muhammad. Mereka meninggalkan kampung halaman, harta, dan kenyamanan hidup semata-mata demi meraih ridha Allah. Ini menunjukkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga bentuk pengorbanan besar yang dilandasi keimanan dan keikhlasan yang mendalam. Dalam hadis ini juga dijelaskan bahwa ada di antara para sahabat yang wafat sebelum sempat menikmati hasil perjuangan mereka di dunia. Artinya, balasan dari amal tidak selalu dirasakan di dunia, melainkan tersimpan sebagai pahala di sisi Allah. Hal ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh mengukur keberhasilan hanya dari hasil duniawi, karena yang paling utama adalah ganjaran di akhirat.
Referensi
- Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2007), Cet. ke-5, Juz 5, h 143.

Komentar 0