Hadis tentang Durhaka pada Orang Tua Termasuk Dosa Besar
Hadis
عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْكَبَائِرِ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَقَوْلُ الزُّورِ. ( رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ٢٥٥١)[1]
Terjemahan
“Hadis dari Anas bahwa Nabi SAW menjelaskan tentang dosa-dosa besar, kemudian Nabi SAW menyebutkan bahwa dosa-dosa besar tersebut meliputi syirik kepada Allah SWT, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan berkata dusta.” (HR Muslim: 2551)
Isi kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar yang sangat berat setelah syirik kepada Allah SWT, sehingga harus dihindari oleh setiap muslim. Penyebutan ‘uquq al-walidain atau durhaka kepada orang tua secara berurutan setelah syirik menunjukkan betapa besar dan beratnya dosa tersebut di sisi Allah SWT. Hadis ini juga menyandingkan durhaka kepada orang tua dengan dosa membunuh jiwa dan bersaksi palsu, yang keduanya termasuk kejahatan besar dalam ajaran Islam. Hal ini mengindikasikan bahwa kedudukan birrul walidain sangat tinggi, sehingga melanggarnya dianggap setara dengan kejahatan-kejahatan besar lainnya. Durhaka kepada orang tua dapat berupa perkataan kasar, sikap membangkang, mengabaikan kebutuhan mereka, atau bahkan menyakiti hati mereka secara fisik maupun batin. Setiap muslim hendaknya menjauhi segala bentuk durhaka tersebut dan senantiasa berusaha menjaga keridhaan orang tuanya. Dengan menyadari beratnya dosa ini, seorang anak akan lebih berhati-hati dalam bersikap kepada kedua orang tuanya.
Referensi
1. Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.th.), juz.1, h.321.

Komentar 0