Hadis tentang Berbakti pada Ibu Tiga Kali Lebih Utama Dibanding Ayah
Hadis
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ «أُمُّكَ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ «ثُمَّ أُمُّكَ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ «ثُمَّ أُمُّكَ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ «ثُمَّ أَبُوكَ». وَفِى حَدِيثِ قُتَيْبَةَ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى وَلَمْ يَذْكُرِ النَّاسَ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ٦٦٦٤)[1]
Terjemahan
“Hadis dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW untuk menanyakan tentang orang yang paling berhak mendapatkan kebaktiannya, kemudian Rasulullah SAW menjawab bahwa orang yang paling berhak adalah ibunya, lalu laki-laki itu kembali bertanya tentang orang berikutnya, kemudian Rasulullah SAW menjawab bahwa orang tersebut adalah ibunya, lalu laki-laki itu kembali bertanya tentang orang berikutnya, kemudian Rasulullah SAW menjawab bahwa orang tersebut adalah ibunya, kemudian laki-laki itu kembali bertanya tentang orang berikutnya, lalu Rasulullah SAW menjawab bahwa orang tersebut adalah bapaknya.” Sedangkan dalam riwayat Qutaibah disebutkan bahwa pertanyaan yang diajukan adalah tentang orang yang paling berhak mendapatkan kebaktiannya tanpa menyebutkan lafaz “an-nas”. (HR Muslim: 6664)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa ibu adalah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dari anak karena besarnya pengorbanan yang ia lakukan, kemudian setelah itu ayah. Pengulangan kata “ibumu” sebanyak tiga kali oleh Nabi SAW sebelum menyebut ayah menunjukkan tingginya kedudukan ibu dalam pandangan Islam dibandingkan anggota keluarga lainnya. Hal ini sejalan dengan beratnya beban yang ditanggung seorang ibu, mulai dari mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan taruhan nyawa, hingga menyusui dan mengasuh anak dengan penuh kasih sayang. Meskipun ayah tetap memiliki kedudukan yang mulia dan wajib dihormati, hadis ini menegaskan adanya skala prioritas dalam berbakti, di mana ibu didahulukan tiga kali lipat dibandingkan ayah. Pelajaran ini mengajarkan setiap anak untuk lebih banyak mencurahkan perhatian, kelembutan, dan pelayanan kepada ibunya tanpa mengabaikan hak ayah. Dengan memahami hadis ini, seorang anak akan semakin menyadari betapa besar jasa ibu yang tidak akan pernah mampu dibalas secara setimpal.
Referensi
1. Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.th.), juz.16, h.368.

Komentar 0