Hadis tentang Keutamaan Do'a Ayah untuk Anaknya
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُودَ: ١٣١٣)[1]
Terjemahan
“Hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW menjelaskan bahwa terdapat tiga doa yang pasti dikabulkan tanpa keraguan, yaitu doa orang tua, doa orang yang bersafar, dan doa orang yang dizhalimi.”(HR Abu Daud: 1313)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini memberi peringatan keras kepada anak yang durhaka kepada orang tuanya. Durhaka dapat mendatangkan dosa besar dan kerugian di akhirat. Anak harus segera bertaubat jika pernah menyakiti orang tua. Jangan sampai menyesal ketika orang tua telah tiada. Hadis ini menyebutkan secara khusus tiga macam doa yang pasti dikabulkan Allah SWT, yaitu doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang terzhalimi, dengan doa orang tua disebutkan pada urutan pertama dalam riwayat ini. Penempatan doa orang tua di urutan pertama menunjukkan betapa istimewanya kedudukan doa tersebut di sisi Allah SWT dibandingkan doa-doa mustajab lainnya. Setiap anak hendaknya menyadari bahwa setiap perkataan dan tindakannya kepada orang tua berpotensi memunculkan doa, baik doa kebaikan maupun doa keburukan yang sama-sama berpeluang besar untuk dikabulkan. Kesadaran ini seharusnya mendorong anak untuk senantiasa berhati-hati dalam bersikap agar tidak memancing kekecewaan atau kemarahan orang tua. Dengan menjaga lisan dan perbuatan, seorang anak dapat memastikan bahwa doa-doa yang terucap dari orang tuanya senantiasa berupa doa kebaikan dan keberkahan.
Referensi
1. Sunan Abi Dawud, karya Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‘ats bin Ishaq al-Sijistani, Sunan Abi Dawud (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, t.th.), juz.5, h.56.

Komentar 0