Hadis tentang Akhlak Mengucapkan Salam
Hadis
عَنِ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ، قَالَ أَقْبَلْتُ أَنَا وَصَاحِبَانِ، لِي قَدْ ذَهَبَتْ أَسْمَاعُنَا وَأَبْصَارُنَا مِنَ الْجَهْدِ فَجَعَلْنَا نَعْرِضُ أَنْفُسَنَا عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ فَلَيْسَ أَحَدٌ يَقْبَلُنَا فَأَتَيْنَا النَّبِيَّ فَأَتَى بِنَا أَهْلَهُ فَإِذَا ثَلاَثَةُ أَعْنُزٍ فَقَالَ النَّبِيُّ" احْتَلِبُوا هَذَا اللَّبَنَ بَيْنَنَا". فَكُنَّا نَحْتَلِبُهُ فَيَشْرَبُ كُلُّ إِنْسَانٍ نَصِيبَهُ وَنَرْفَعُ لِرَسُولِ اللَّهِ نَصِيبَهُ فَيَجِيءُ رَسُولُ اللَّهِ مِنَ اللَّيْلِ فَيُسَلِّمُ عَلَيْنَا تَسْلِيمًا لاَ يُوقِظُ النَّائِمَ وَيُسْمِعُ الْيَقْظَانَ ثُمَّ يَأْتِي الْمَسْجِدَ فَيُصَلِّي ثُمَّ يَأْتِي شَرَابَهُ فَيَشْرَبُهُ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
(رواه الترمذي: ٢٧١٩)
Terjemahan
Hadis dari Al-Miqdad bin Al-Aswad, ia berkata: aku dan dua orang temanku datang dalam keadaan pendengaran dan penglihatan kami hampir hilang karena kelaparan yang sangat. Kami menawarkan diri kami kepada para sahabat Nabi SAW, namun tidak ada seorang pun yang bisa menerima kami (karena keterbatasan mereka). Maka kami mendatangi Nabi SAW, lalu beliau membawa kami ke rumah keluarganya, dan di sana terdapat tiga ekor kambing. Nabi SAW bersabda: "perahlah susu ini untuk kita bersama." Kami pun memerahnya, lalu setiap orang meminum bagiannya masing-masing, dan kami menyisakan bagian untuk Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW datang pada malam hari, lalu beliau mengucapkan salam dengan ucapan yang tidak membangunkan orang yang tidur, namun bisa didengar oleh orang yang terjaga. Setelah itu beliau menuju masjid untuk salat, lalu mendatangi minumannya dan meminumnya.' Abu 'Isa (Imam At-Tirmidzi) berkata: Ini adalah hadis hasan shahih." (HR Tirmidzi: 2719)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengandung pelajaran agung tentang keluhuran akhlak Rasulullah SAW dalam memuliakan tamu dan menjaga perasaan orang lain. Kisah ini bermula ketika Al-Miqdad bin Al-Aswad bersama dua temannya mengalami kelaparan hebat hingga mengganggu penglihatan dan pendengaran mereka, namun tidak ada satu pun sahabat yang mampu menjamu mereka karena keterbatasan kondisi saat itu. Rasulullah SAW kemudian menyambut mereka dengan penuh kedermawanan, membawa mereka ke rumah beliau, dan membagi rata hasil perasan susu dari tiga ekor kambing miliknya secara adil untuk dinikmati bersama. Keteladanan akhlak Nabi SAW semakin tampak ketika beliau pulang pada malam hari, di mana beliau mengucapkan salam dengan volume suara yang sangat terukur; cukup pelan agar tidak mengejutkan atau membangunkan orang yang sedang terlelap, tetapi masih bisa didengar dengan jelas oleh orang yang terjaga. Melalui peristiwa ini, Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki sikap tenggang rasa yang tinggi, menjaga ketenteraman sesama di waktu istirahat, serta senantiasa mengedepankan sifat berbagi dan amanah dalam urusan hak bersama.

Komentar 0