Hadis tentang Puncak Keluhuran Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Sosial
Hadis
عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيَّ، يَقُولُ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ، رَسُولِ اللَّهِ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا وَلاَ صَخَّابًا فِي الأَسْوَاقِ وَلاَ يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَأَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيُّ اسْمُهُ عَبْدُ بْنُ عَبْدٍ وَيُقَالُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدٍ (رواه الترمذي ٢٠١٦)
Terjemahan
Hadis dari Abi Ishaq, yang berkata; aku mendengar Abu Abdullah Al-Jadali berkata: aku bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah SAW, maka Aisyah menjawab: "Rasulullah SAW tidak pernah berbuat keji, tidak pula bersengaja berbuat keji, tidak suka berteriak-teriak (membuat kegaduhan) di pasar-pasar, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, melainkan Rasulullah SAW selalu memaafkan dan berlapang dada." Abu Isa (Imam At-Tirmidzi) berkata: hadis ini adalah hadis hasan sahih. Dan Abu Abdullah Al-Jadali namanya adalah Abdu bin Abdi, dan ada yang mengatakan Abdurrahman bin Abdi." (HR.Tirmidzi: 2016)
Isi Kandungan Hadis
hadis ini menjelaskan tentang karakteristik agung kepribadian Rasulullah SAW yang terbebas dari segala bentuk ucapan, perbuatan keji, maupun tabiat yang tidak menyenangkan. Melalui kesaksian Ummul Mukminin Aisyah, hadis ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berperilaku kasar, tidak sengaja berbuat keji, serta tidak pernah berteriak-teriak atau membuat kegaduhan di tempat umum seperti pasar demi menjaga wibawa dan kenyamanan lingkungan sekitar. Selain itu, prinsip moral tertinggi yang ditunjukkan dalam hadis ini adalah ketegasan Rasulullah SAW untuk tidak pernah membalas keburukan atau kejahatan orang lain dengan keburukan serupa. Sebaliknya, Rasulullah SAW selalu memilih jalan kedamaian dengan memberikan maaf serta berlapang dada (al-afwu wash shafhu) kepada siapa saja yang bersalah. Secara sosial, kandungan teks suci ini mengedukasi umat Islam, terutama para pemimpin dan dai untuk meniru kesabaran ini, mengendalikan ego saat dizalimi, serta mengutamakan kelembutan demi menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis.

Komentar 0