Hadis tentang Kesabaran Pertama ketika dapat Musibah Pertama
Hadis
عَنْ أَنَسٍ قَالَ أَتَى نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ تَبْكِي عَلَى صَبِيٍّ لَهَا فَقَالَ لَهَا اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي فَقَالَتْ وَمَا تُبَالِي أَنْتَ بِمُصِيبَتِي فَقِيلَ لَهَا هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْهُ فَلَمْ تَجِدْ عَلَى بَابِهِ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى أَوْ عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ (رواه أبي داوود: ٢٧١٧)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Anas bin Malik, ia berkata:Nabi SAW’mendatangi seorang wanita yang sedang menangisi anak kecilnya. Maka ia bersabda kepadanya:“Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.”Wanita itu berkata: apa pedulimu terhadap musibahku? Kemudian dikatakan kepadanya: itu adalah Nabi SAW’ Lalu ia datang kepada Nabi SAW’ tetapi tidak menemukan penjaga di pintu beliau. Ia berkata: wahai Rasulullah, aku tidak mengenalmu.”Maka Nabi SAW’ bersabda: sesungguhnya kesabaran itu adalah pada pukulan pertama (saat musibah pertama kali terjadi). (HR abi Dawud: 2717)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengandung pelajaran penting tentang hakikat kesabaran dalam Islam, khususnya ketika menghadapi musibah. Nabi SAW,menasihati seorang wanita yang sedang menangisi anaknya agar bertakwa kepada Allah dan bersabar. Namun, wanita tersebut pada awalnya menolak nasihat itu karena sedang diliputi kesedihan yang mendalam, hingga akhirnya ia mengetahui bahwa yang menasihatinya adalah Rasulullah SAW. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia secara fitrah dapat kehilangan kendali emosi ketika tertimpa musibah besar, tetapi Islam tetap memberikan tuntunan agar seorang mukmin segera kembali kepada kesabaran dan ketakwaan ketika hati masih terguncang dan belum stabil. Kesabaran setelah itu menjadi lebih mudah karena emosi telah mereda, sehingga tidak lagi mencerminkan kekuatan iman secara utuh. Selain itu, hadis ini juga menggambarkan akhlak mulia Rasulullah SAW yang tetap bersikap lembut dan tidak marah ketika diperlakukan kurang sopan, bahkan beliau tetap memberikan bimbingan dengan penuh hikmah. Di sisi lain, tidak adanya penjaga di pintu rumah Nabi SAW menunjukkan kesederhanaan dan keterbukaan beliau terhadap umatnya.
Referensi
- Abu Dawud Sulayman ibn al-Ashʿath al-Sijistani, Sunan Abi Dawud, tahqīq Shuʿayb al-Arnaʾuṭ (Damaskus: Dār al-Risālah al-'Ālamiyyah, 2009), Kitāb al-Jana'iz, no. 3124.

Komentar 0