Hadis tentang Kesabaran dalam Menghadapi Kritik dan Ujian Sosial
Hadis
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْمًا فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّهَا لَقِسْمَةٌ مَا أُرِيدَ بِهَا وَجْهُ اللَّهِ قَالَ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَارَرْتُهُ فَغَضِبَ مِنْ ذَلِكَ غَضَبًا شَدِيدًا وَاحْمَرَّ وَجْهُهُ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَذْكُرْهُ لَهُ قَالَ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَوُذِيَ مُوسَى بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ (رواه مسلم: ١٧٦٠)[1]
Terjemahan
Hadis ini, dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata:"Rasulullah SAW pernah membagikan suatu pembagian (harta). Lalu seorang laki-laki berkata: ini adalah pembagian yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridaan Allah.Maka aku mendatangi Nabi dan membisikkan perkataan orang tersebut kepada beliau. Beliau pun marah dengan kemarahan yang sangat besar, hingga wajah beliau memerah. Sampai-sampai aku berharap seandainya aku tidak menyampaikan perkataan itu kepada beliau.Kemudian beliau bersabda: Sungguh, Musa telah disakiti dengan sesuatu yang lebih berat daripada ini, tetapi ia tetap bersabar. (HR Muslim: 1760)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi ucapan dan tuduhan yang menyakitkan dari sebagian manusia. Ketika Rasulullah SAW membagikan harta, ada seseorang yang menuduh bahwa pembagian tersebut tidak dilakukan karena mencari ridha Allah. Tuduhan itu sangat menyakitkan karena Rasulullah SAW adalah orang yang paling jujur dan paling ikhlas dalam setiap perbuatannya. Hal ini menunjukkan bahwa para nabi pun tidak terlepas dari hinaan dan tuduhan manusia.Isi kandungan hadis ini juga menggambarkan kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Abdullah bin Mas‘ud merasa tidak nyaman mendengar ucapan tersebut sehingga ia menyampaikannya kepada Nabi SAW. Ketika Rasulullah SAW marah hingga wajahnya memerah, hal itu menunjukkan bahwa ucapan dusta dan tuduhan tanpa dasar merupakan perbuatan yang sangat tercela dalam Islam.Selain itu, hadis ini mengandung pelajaran penting tentang kesabaran dalam menghadapi gangguan manusia. Rasulullah SAW mengingat kisah Nabi Musa ‘alaihissalam yang juga pernah disakiti oleh kaumnya dengan gangguan yang lebih berat, namun beliau tetap bersabar. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan bahwa orang yang berada di jalan kebenaran akan menghadapi ujian, hinaan, dan fitnah, sehingga diperlukan kesabaran dan keteguhan hati.Hadis ini juga mengajarkan agar seorang muslim menjaga lisannya dan tidak mudah menuduh orang lain, terlebih kepada orang yang saleh atau pemimpin yang adil. Tuduhan yang tidak benar dapat menyakiti hati orang lain dan menimbulkan kerusakan dalam masyarakat. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan adab berbicara dan larangan berprasangka buruk.
Referensi
- Muslim ibn al-Ḥajjaj al-Qushayrī al-Naysbaurī, Ṣaḥīḥ Muslim, ed. Muḥammad Fuʾād ʿAbd al-Baqī (Beirut: Dār Iḥyāʾ al-Turāth al-ʿArabī, t.t.), Kitāb al-Zakāh, Bāb Dhikr al-Khawārij wa Ṣifātihim, no. 1062.

Komentar 0