Hadis tentang Penasihat Pemimpin
Hadis
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِىٍّ وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى. (رواه البخاري: ٧١٩٨)[١]
Terjemahan
Hadis dari Abu Sa‘id al-Khudri, dari Nabi SAW, ia bersabda: tidaklah Allah SWT mengutus seorang nabi dan tidak pula mengangkat seorang khalifah, melainkan ia memiliki dua golongan penasihat: satu golongan yang memerintahkan kepada kebaikan dan mendorong untuk melakukannya, dan satu golongan lagi yang memerintahkannya kepada keburukan serta mendorong untuk melakukannya. Maka orang yang terjaga (dari keburukan) adalah orang yang dijaga oleh Allah Ta‘ala. (HR al-Bukhari: 7198)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa setiap pemimpin pasti memiliki pengaruh dari lingkungan sekitarnya, baik yang mendorong kepada kebaikan maupun kepada keburukan. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang pemimpin untuk memilih penasihat dan lingkungan yang baik agar tetap berada di jalan yang benar. Pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin dalam menjaga diri dari pengaruh buruk sangat bergantung pada pertolongan Allah SWT, sehingga ia harus senantiasa memohon perlindungan dan bimbingan-Nya agar tetap istiqamah dalam kebaikan.
Referensi
- Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulullah SAW wa Sunanih wa Ayyamih, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), Jilid 23, h. 456

Komentar 0