Hadis tentang Larangan Meminta menjadi Pemimpin
Hadis
حَدَّثَنِى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ فَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَأْتِ الَّذِى هُوَ خَيْرٌ وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ. (رواه البخاري: ٧١٤٧)[١]
Terjemahan
'Abdurrahman bin Samurah RA telah menceritakan kepadaku, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku: wahai 'Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan (kepemimpinan), karena jika engkau diberi jabatan itu karena permintaanmu, maka engkau akan diserahkan sepenuhnya kepadanya. Namun jika engkau diberi jabatan itu tanpa memintanya, maka engkau akan diberi pertolongan dalam menjalankannya. Jika engkau bersumpah atas suatu sumpah, lalu engkau melihat ada yang lebih baik darinya, maka lakukanlah yang lebih baik itu dan bayarlah kaffarah atas sumpahmu. (HR al-Bukhari: 7147)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang nasihat penting tentang sikap terhadap jabatan dan juga tentang sumpah. Rasulullah SAW melarang meminta jabatan, karena jika seseorang mendapatkannya karena ambisi atau permintaan pribadi, maka ia akan dibiarkan mengurusnya sendiri tanpa pertolongan Allah SWT. Sebaliknya, jika jabatan itu datang tanpa diminta, maka Allah SWT akan memberikan pertolongan dalam menjalankannya. Ini menunjukkan bahwa sikap rendah hati dan tidak ambisius terhadap kekuasaan adalah bagian dari akhlak seorang muslim. Makna larangan meminta jabatan di sini bukan berarti seseorang sama sekali tidak boleh memimpin, tetapi kepada peringatan agar tidak menjadikan jabatan sebagai ambisi pribadi.
Referensi
- Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umuri Rasulullah SAW wa Sunanih wa Ayyamih, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), Jilid 23, h. 368

Komentar 0