40 HADIS HARI JUMAT

KTI

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Hari Jumat, silakan telusuri aplikasi ini untuk menemukan beragam ilmu yang bermanfaat.

Foto Bobi

Tentang Penulis

Bobi

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS HARI JUMAT

Penyusun: Bobi

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Adzan Jumat Dilaksanakan saat Imam Duduk di Mimbar

Disusun oleh: Bobi (@Bobi) · Bagian dari 40 HADIS HARI JUMAT

Hadis

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ: أَنَّ الَّذِي زَادَ التَّأْذِينَ الثَّالِثَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -حِينَ كَثُرَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ- وَلَمْ يَكُنْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤَذِّنٌ غَيْرُ وَاحِدٍ، وَكَانَ التَّأْذِينُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٩١٣)[١]

Terjemahan

Hadis dari as-Sa’ib bin Yazid: Bahwasanya orang yang menambah azan ketiga pada hari Jumat adalah Utsman bin Affan RA ketika penduduk Madinah sudah bertambah banyak. Sebelumnya, Nabi SAW tidak memiliki muazin kecuali satu orang saja, dan azan pada hari Jumat (dahulu) dilakukan ketika imam sudah duduk (di atas mimbar). (HR. Bukhari: 913)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan bahwa penambahan azan pertama pada hari Jumat dilakukan oleh Utsman bin Affan r.a. ketika jumlah kaum Muslimin semakin banyak. Sebelumnya pada masa Rasulullah SAW hanya ada satu muazin yang mengumandangkan azan ketika imam telah duduk di atas mimbar. Penambahan azan tersebut bertujuan memberi pemberitahuan lebih awal kepada masyarakat agar mereka dapat mempersiapkan diri menuju masjid. Hadis ini menunjukkan perhatian para sahabat terhadap kemaslahatan umat dan pentingnya mengatur pelaksanaan ibadah agar dapat berjalan dengan lebih baik. Selain itu, hadis ini juga menjadi dasar sejarah praktik azan Jumat yang banyak diterapkan hingga saat ini.

Referensi

  1. Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), Juz 1, h. 220.

Komentar 0