40 HADIS HARI JUMAT

KTI

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Hari Jumat, silakan telusuri aplikasi ini untuk menemukan beragam ilmu yang bermanfaat.

Foto Bobi

Tentang Penulis

Bobi

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS HARI JUMAT

Penyusun: Bobi

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Larangan Menyuruh Orang lain Diam saat Khutbah

Disusun oleh: Bobi (@Bobi) · Bagian dari 40 HADIS HARI JUMAT

Hadis

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ المُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الجُمُعَةِ: أَنْصِتْ -وَالإِمَامُ يَخْطُبُ- فَقَدْ لَغَوْتَ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٩٣٤)[١] 

Terjemahan

Hadis dari Ibnu Syihab, ia berkata: Sa'id bin Al-Musayyab telah mengabarkan kepadaku, bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW bersabda: Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jumat, 'Diamlah!', padahal imam sedang berkhutbah, maka sesungguhnya kamu telah berbuat sia-sia. (HR. Bukhari: 934)

Isi Kandungan Hadis 

Hadis ini menegaskan pentingnya menjaga ketenangan dan keseriusan ketika khutbah Jumat sedang berlangsung. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa bahkan mengucapkan kata "diamlah" kepada teman yang sedang berbicara saat khutbah berlangsung termasuk perbuatan yang sia-sia dan dapat mengurangi pahala Jumat. Hal ini menunjukkan bahwa khutbah merupakan bagian penting dari ibadah Jumat yang wajib didengarkan dengan penuh perhatian. Setiap jamaah dituntut untuk fokus kepada nasihat dan pengajaran yang disampaikan khatib tanpa melakukan percakapan atau aktivitas lain yang dapat mengganggu konsentrasi. Hadis ini mengajarkan bahwa menghormati khutbah merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap syiar Islam dan sarana untuk memperoleh manfaat ilmu serta pahala yang sempurna.

Referensi

  1. Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), Juz 1, h. 225.


Komentar 0