40 HADIS HARI JUMAT

KTI

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Hari Jumat, silakan telusuri aplikasi ini untuk menemukan beragam ilmu yang bermanfaat.

Foto Bobi

Tentang Penulis

Bobi

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS HARI JUMAT

Penyusun: Bobi

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Larangan Mengusir orang dari Tempat Duduknya

Disusun oleh: Bobi (@Bobi) · Bagian dari 40 HADIS HARI JUMAT

Hadis

أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ: سَمِعْتُ نَافِعًا يَقُولُ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقِيمَ الرَّجُلُ أَخَاهُ مِنْ مَقْعَدِهِ وَيَجْلِسَ فِيهِ. قُلْتُ لِنَافِعٍ: الجُمُعَةَ؟ قَالَ: الجُمُعَةَ وَغَيْرَهَا (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٩١١)[١]

Terjemahan

Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Nafi' berkata: Aku mendengar Ibnu Umar RA berkata: Nabi SAW melarang seseorang mengusir saudaranya dari tempat duduknya kemudian ia duduk di tempat tersebut. 'Aku Ibnu Juraij bertanya kepada Nafi': 'Apakah itu khusus untuk hari Jumat?' Nafi' menjawab: 'Hari Jumat dan hari-hari lainnya. (HR. Bukhari: 911)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini berisi larangan Rasulullah SAW untuk mengusir atau menyuruh seseorang bangkit dari tempat duduknya agar orang lain dapat menempati tempat tersebut. Larangan ini berlaku baik pada hari Jumat maupun pada hari-hari lainnya. Islam mengajarkan sikap saling menghormati, menghargai hak orang lain, dan menghindari tindakan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan di dalam masjid. Dalam suasana ibadah, seorang Muslim harus menjaga akhlak yang baik serta mengutamakan persaudaraan sesama Muslim. Hadis ini mengajarkan bahwa mendapatkan tempat yang baik di masjid tidak boleh dilakukan dengan cara merugikan atau menyakiti orang lain.

Referensi

  1. Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), Juz 1, h. 220.

Komentar 0