Hadis tentang Cara Allah SWT Mencabut Ilmu
Hadis
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ «إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا». (رواه البخاري: ١٠٠) [١]
Terjemahan
Hadis dari Abdullah bin 'Amr bin al-Ash ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah SWT tidak mencabut ilmu dengan cara merenggutnya sekaligus dari dada para hamba. Akan tetapi, Allah SWT mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Sehingga, ketika Allah SWT tidak menyisakan lagi seorang pun yang berilmu (ulama), manusia pun akhirnya mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Ketika mereka ditanya (tentang urusan agama), mereka lalu memberikan fatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan orang lain. (HR al-Bukhari: 100)
Isi Kandungan Hadis
Hilangnya ilmu agama terjadi secara bertahap melalui wafatnya para ulama, bukan dengan dihilangkannya ilmu secara langsung dari hati manusia. Ketika para ulama telah tiada dan tidak ada pengganti yang berilmu, maka manusia akan mengangkat orang-orang yang tidak memiliki ilmu sebagai pemimpin atau rujukan. Akibatnya, mereka akan memberikan fatwa tanpa dasar yang benar, sehingga menyebabkan kesesatan bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga ilmu, menghargai ulama, serta berhati-hati dalam berbicara atau mengambil keputusan dalam urusan agama tanpa ilmu yang benar.
Referensi
- Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il al-Bukhari, al-Jāmi‘ al-Musnad aṣ-Ṣaḥīḥ al-Mukhtaṣar min Umūr Rasūlillāh wa Sunanihi wa Ayyāmih, (Kairo: Dar al-Hadith), Juz 1, h. 187.

Komentar 0