Hadis tentang Pengokohan Bumi dan Gunung-gunung
Hadis
Terjemah Hadis
Hadis dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW bersabda: "Tatkala Allah
menciptakan bumi, bumi mulai berguncang, lalu Allah menciptakan gunung-gunung
dan meletakkannya di atas bumi sehingga bumi menjadi stabil; maka para malaikat
pun takjub akan kekokohan gunung-gunung tersebut dan bertanya, 'Wahai Tuhan,
adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh dari gunung?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu
besi.' Mereka bertanya lagi, 'Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh
dari besi?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu api.' Mereka bertanya lagi, 'Wahai
Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh dari api?' Allah menjawab, 'Ada,
yaitu air.' Mereka bertanya lagi, 'Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih
kokoh dari air?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu angin.' Mereka bertanya lagi,
'Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh dari angin?' Allah menjawab,
'Ada, yaitu anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya dan ia
menyembunyikannya dari tangan kirinya.'" Abu Isa (Imam At-Tirmidzi)
berkata: Hadis ini derajatnya garib, kami tidak mengetahuinya secara marfu'
kecuali dari jalur ini.
Kandungan Hadis
Hadis tentang pengokohan bumi dengan gunung memiliki kesesuaian dengan firman Allah Swt.:
وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
"Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, sebagai
kesenangan bagimu dan bagi hewan-hewan ternakmu." (QS. An-Nazi'at [79]:
32–33).
Makna tersebut juga ditegaskan dalam sejumlah ayat Al-Qur'an lainnya, di
antaranya Surah Ar-Ra'd ayat 3, Al-Hijr ayat 19, An-Nahl ayat 15, Al-Anbiya
ayat 31, An-Naml ayat 61, Luqman ayat 10, Fushshilat ayat 10, Qaf ayat 7, dan
Al-Mursalat ayat 27. Pengulangan tema ini menunjukkan pentingnya keberadaan
gunung dalam menjaga kestabilan bumi sehingga layak dihuni manusia.[1]
Dalam Al-Qur'an dan hadis, kata al-ardh memiliki beberapa makna sesuai
konteksnya. Terkadang kata tersebut menunjuk kepada planet bumi secara
keseluruhan, terkadang kepada daratan atau kerak bumi tempat manusia hidup, dan
pada konteks lain menunjuk kepada tanah yang menutupi lapisan batuan.
Para ilmuwan sejak lama berusaha memahami bagaimana gunung berperan
dalam mengokohkan bumi. Pada pandangan awal, hal ini tampak sulit dipahami
karena massa seluruh gunung di permukaan bumi sangat kecil dibandingkan massa
bumi secara keseluruhan. Demikian pula tinggi gunung tertinggi dan kedalaman
palung terdalam hanya merupakan bagian yang sangat kecil dibandingkan jari-jari
bumi. Perbedaan antara Puncak Everest dan Palung Mariana bahkan kurang dari 20
kilometer, sedangkan jari-jari bumi sekitar 6.378 kilometer. Dengan demikian,
relief permukaan bumi hanya sekitar 0,3 persen dari keseluruhan radius bumi.[2]
Keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimana gunung dapat berperan
dalam menstabilkan bumi jika ukurannya relatif sangat kecil dibandingkan planet
ini?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut mulai dipahami setelah
berkembangnya ilmu tektonik lempeng pada pertengahan abad ke-20. Penelitian
menunjukkan bahwa kerak bumi tidak utuh, melainkan tersusun atas sejumlah
lempeng yang bergerak di atas lapisan mantel bagian atas yang bersifat plastis.
Pergerakan lempeng ini dipicu oleh arus konveksi di dalam bumi sehingga lempeng
dapat saling menjauh, saling bertumbukan, atau saling bergeser.[3]
Pada daerah tumbukan lempeng, terbentuklah rangkaian pegunungan besar.
Salah satu contohnya adalah Pegunungan Himalaya yang terbentuk akibat tumbukan
Lempeng India dengan Lempeng Eurasia. Proses ini tidak hanya menghasilkan
pegunungan, tetapi juga menjadi bagian dari mekanisme keseimbangan kerak bumi
melalui proses yang dikenal sebagai isostasi.
Sebagian ilmuwan memandang bahwa akar pegunungan yang memanjang jauh ke
dalam kerak bumi berperan dalam menjaga keseimbangan kerak sebagaimana gunung
es yang sebagian besar massanya berada di bawah permukaan air. Dalam pengertian
ini, gunung tidak berfungsi menghentikan seluruh gerakan lempeng, melainkan
menjadi bagian dari sistem keseimbangan geologi bumi yang kompleks.
Hadis yang menyatakan bahwa Allah mengokohkan bumi dengan gunung
dipahami oleh banyak ulama sebagai isyarat tentang fungsi gunung dalam menjaga
keteraturan bumi. Pemahaman ini dinilai selaras dengan sejumlah ayat Al-Qur'an
yang menggambarkan gunung sebagai "pasak" atau sesuatu yang
dipancangkan agar bumi tetap stabil.
Bagi kaum muslimin, kesesuaian antara hadis, ayat-ayat Al-Qur'an, dan
temuan ilmiah modern dipandang sebagai salah satu tanda kebesaran Allah Swt.
serta penguat keyakinan terhadap kebenaran risalah Nabi Muhammad saw. Al-Qur'an
sendiri menegaskan bahwa Nabi tidak berbicara menurut hawa nafsunya, melainkan
berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah.
"Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Ucapannya
itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan." (QS. An-Najm [53]: 3–4).
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan
senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, para sahabat, serta
seluruh pengikut beliau hingga hari kiamat. Segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam.
[1] Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS. An-Nahl: 15, QS. Al-Anbiya: 31
[2] Frank Press dan Raymond Siever, Earth: An Introduction to
Physical Geology (San Francisco: W. H. Freeman and Company, 1974).
[3] John Grotzinger dan Thomas H. Jordan, Understanding Earth,
ed. ke-1 (New York: McGraw-Hill Education, 1996).

Komentar 0