40 HADIS SAINS

KTI

أهــــلًا وسهــــلًا

Ketika banyak orang menaruh perhatian besar pada sains dan teknologi, dialog yang menghubungkan keimanan dengan pengetahuan dapat membuka ruang yang lebih luas untuk memahami ajaran Islam secara rasional sekaligus spiritual. Aplikasi ini yang diberi dengan nama "40 Hadis Sains" mengulas berbagai hadis Nabi ﷺ tentang fenomena alam, fenomena biologis, kesehatan, dan lainnya yang menghubungkan dengan temuan ilmiah modern. Semakin berkembang ilmu pengetahuan, semakin tampak keluasan ilmu Allah dan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW. Cocok bagi siapa saja yang ingin memperkuat keimanan sekaligus mengasah cara berpikir kritis dan ilmiah.

Foto Zayid Abdurrahman

Tentang Penulis

Zayid Abdurrahman

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SAINS

Penyusun: Zayid Abdurrahman

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Pengokohan Bumi dan Gunung-gunung

Disusun oleh: Zayid Abdurrahman (@zayieed) · Bagian dari 40 HADIS SAINS

Hadis

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الأَرْضَ جَعَلَتْ تَمِيدُ فَخَلَقَ الْجِبَالَ فَعَادَ بِهَا عَلَيْهَا فَاسْتَقَرَّتْ فَعَجِبَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ شِدَّةِ الْجِبَالِ قَالُوا يَا رَبِّ هَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْجِبَالِ قَالَ نَعَمِ الْحَدِيدُ . قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْحَدِيدِ قَالَ نَعَمِ النَّارُ. فَقَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ النَّارِ قَالَ نَعَمِ الْمَاءُ. قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الْمَاءِ قَالَ نَعَمْ الرِّيحُ قَالُوا يَا رَبِّ فَهَلْ مِنْ خَلْقِكَ شَىْءٌ أَشَدُّ مِنَ الرِّيحِ قَالَ نَعَمِ ابْنُ آدَمَ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ بِيَمِينِهِ يُخْفِيهَا مِنْ شِمَالِهِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ مَرْفُوعًا إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ (الترمذي: ٣٦٩٥)

Terjemah Hadis

Hadis dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW bersabda: "Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi mulai berguncang, lalu Allah menciptakan gunung-gunung dan meletakkannya di atas bumi sehingga bumi menjadi stabil; maka para malaikat pun takjub akan kekokohan gunung-gunung tersebut dan bertanya, 'Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh dari gunung?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi.' Mereka bertanya lagi, 'Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh dari besi?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu api.' Mereka bertanya lagi, 'Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh dari api?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu air.' Mereka bertanya lagi, 'Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh dari air?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu angin.' Mereka bertanya lagi, 'Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kokoh dari angin?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya dan ia menyembunyikannya dari tangan kirinya.'" Abu Isa (Imam At-Tirmidzi) berkata: Hadis ini derajatnya garib, kami tidak mengetahuinya secara marfu' kecuali dari jalur ini.


Kandungan Hadis

Hadis tentang pengokohan bumi dengan gunung memiliki kesesuaian dengan firman Allah Swt.: 


وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا ۝ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

"Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, sebagai kesenangan bagimu dan bagi hewan-hewan ternakmu." (QS. An-Nazi'at [79]: 32–33).

Makna tersebut juga ditegaskan dalam sejumlah ayat Al-Qur'an lainnya, di antaranya Surah Ar-Ra'd ayat 3, Al-Hijr ayat 19, An-Nahl ayat 15, Al-Anbiya ayat 31, An-Naml ayat 61, Luqman ayat 10, Fushshilat ayat 10, Qaf ayat 7, dan Al-Mursalat ayat 27. Pengulangan tema ini menunjukkan pentingnya keberadaan gunung dalam menjaga kestabilan bumi sehingga layak dihuni manusia.[1]

Dalam Al-Qur'an dan hadis, kata al-ardh memiliki beberapa makna sesuai konteksnya. Terkadang kata tersebut menunjuk kepada planet bumi secara keseluruhan, terkadang kepada daratan atau kerak bumi tempat manusia hidup, dan pada konteks lain menunjuk kepada tanah yang menutupi lapisan batuan.

Para ilmuwan sejak lama berusaha memahami bagaimana gunung berperan dalam mengokohkan bumi. Pada pandangan awal, hal ini tampak sulit dipahami karena massa seluruh gunung di permukaan bumi sangat kecil dibandingkan massa bumi secara keseluruhan. Demikian pula tinggi gunung tertinggi dan kedalaman palung terdalam hanya merupakan bagian yang sangat kecil dibandingkan jari-jari bumi. Perbedaan antara Puncak Everest dan Palung Mariana bahkan kurang dari 20 kilometer, sedangkan jari-jari bumi sekitar 6.378 kilometer. Dengan demikian, relief permukaan bumi hanya sekitar 0,3 persen dari keseluruhan radius bumi.[2]

Keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimana gunung dapat berperan dalam menstabilkan bumi jika ukurannya relatif sangat kecil dibandingkan planet ini?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut mulai dipahami setelah berkembangnya ilmu tektonik lempeng pada pertengahan abad ke-20. Penelitian menunjukkan bahwa kerak bumi tidak utuh, melainkan tersusun atas sejumlah lempeng yang bergerak di atas lapisan mantel bagian atas yang bersifat plastis. Pergerakan lempeng ini dipicu oleh arus konveksi di dalam bumi sehingga lempeng dapat saling menjauh, saling bertumbukan, atau saling bergeser.[3]

Pada daerah tumbukan lempeng, terbentuklah rangkaian pegunungan besar. Salah satu contohnya adalah Pegunungan Himalaya yang terbentuk akibat tumbukan Lempeng India dengan Lempeng Eurasia. Proses ini tidak hanya menghasilkan pegunungan, tetapi juga menjadi bagian dari mekanisme keseimbangan kerak bumi melalui proses yang dikenal sebagai isostasi.

Sebagian ilmuwan memandang bahwa akar pegunungan yang memanjang jauh ke dalam kerak bumi berperan dalam menjaga keseimbangan kerak sebagaimana gunung es yang sebagian besar massanya berada di bawah permukaan air. Dalam pengertian ini, gunung tidak berfungsi menghentikan seluruh gerakan lempeng, melainkan menjadi bagian dari sistem keseimbangan geologi bumi yang kompleks.

Hadis yang menyatakan bahwa Allah mengokohkan bumi dengan gunung dipahami oleh banyak ulama sebagai isyarat tentang fungsi gunung dalam menjaga keteraturan bumi. Pemahaman ini dinilai selaras dengan sejumlah ayat Al-Qur'an yang menggambarkan gunung sebagai "pasak" atau sesuatu yang dipancangkan agar bumi tetap stabil.

Bagi kaum muslimin, kesesuaian antara hadis, ayat-ayat Al-Qur'an, dan temuan ilmiah modern dipandang sebagai salah satu tanda kebesaran Allah Swt. serta penguat keyakinan terhadap kebenaran risalah Nabi Muhammad saw. Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa Nabi tidak berbicara menurut hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

"Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan." (QS. An-Najm [53]: 3–4).

Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, para sahabat, serta seluruh pengikut beliau hingga hari kiamat. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.



[1] Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS. An-Nahl: 15, QS. Al-Anbiya: 31

[2] Frank Press dan Raymond Siever, Earth: An Introduction to Physical Geology (San Francisco: W. H. Freeman and Company, 1974).

[3] John Grotzinger dan Thomas H. Jordan, Understanding Earth, ed. ke-1 (New York: McGraw-Hill Education, 1996).


Komentar 0