Hadis tentang Menjaga Lisan dalam Kehidupan Bermasyarakat
Hadis
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رضى الله عنه قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (وَرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)(١١)
Terjemahan
Dari Abu Burdah, dari Abu Musa al-Asy'ari RA ia berkata: Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah SAW , Islam yang mana yang paling utama Rasullah SAW menjawab: Islam yang paling utama adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.( HR al-Bukhaori No 11)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa salah satu ukuran keutamaan seorang Muslim adalah sejauh mana ia tidak menyakiti orang lain, baik melalui lisan maupun perbuatan. Seorang Muslim yang baik adalah orang yang menjaga ucapannya agar tidak menyakiti, seperti berkata kasar, mencela, memfitnah, atau menyebarkan keburukan di tengah masyarakat. Selain menjaga lisan, hadis ini juga menekankan pentingnya menjaga tangan, yang mencakup perbuatan dan tindakan. Seorang Muslim tidak boleh melakukan kekerasan, penindasan, atau tindakan yang merugikan orang lain. Dengan demikian, Islam mengajarkan keselamatan sosial dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Hadis ini juga menunjukkan bahwa kualitas keislaman seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari akhlaknya terhadap sesama manusia. Semakin baik seseorang menjaga lisannya dan perbuatannya, semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah Swt. Dengan demikian, hadis ini menjadi dasar penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis, penuh rasa aman, saling menghormati, dan jauh dari gangguan baik verbal maupun fisik.
Referensi
1.Sahih al-Bukhari, Kitab Al-Iman, Bab Ayyul Islami Afdhal, hadis No. 11.

Komentar 0