* Hadis
عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ، اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي مِنَ الذُّنُوبِ كَمَا يُطَهَّرُ الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. (رواه النسائي: ٤٠١)
Terjemahan
Hadis dari Ibnu Abi Aufa, ia berkata: Nabi ﷺ biasa membaca, “Ya Allah, sucikanlah aku dengan salju, embun, dan air yang dingin. Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa sebagaimana kain putih disucikan dari kotoran.” (HR. an-Nasa’i: 401).
Isi kandungan Hadis
Hadis ini berisi doa Nabi ﷺ yang menekankan permohonan penyucian diri dari dosa dengan gambaran yang sangat kuat: disucikan seperti pakaian putih dari noda, serta dibersihkan dengan air, salju, dan embun. Dalam konteks iftitah, doa ini dapat dipahami sebagai bagian dari orientasi awal seorang hamba ketika memasuki salat, yaitu memulai ibadah dengan kesadaran akan kebutuhan untuk disucikan sebelum menghadap Allah. Meskipun tidak secara eksplisit disebut sebagai lafaz iftitah yang baku, substansinya selaras dengan fungsi pembukaan salat: menghadirkan ketundukan, pengakuan atas dosa, dan permohonan pembersihan spiritual sebelum melanjutkan bacaan utama. Ini menunjukkan bahwa dimensi iftitah tidak hanya terbatas pada pujian dan pengagungan, tetapi juga mencakup aspek tazkiyah (penyucian diri) sebagai fondasi awal dalam ibadah salat.
* Hadis
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو: «اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْهَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ (رواه النسائي: ٤٠٢)
Terjemahan
Hadis dari ‘Abdullah bin Abi Aufa meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau berdoa, “Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa dan kesalahan. Ya Allah, bersihkanlah aku darinya sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah aku dengan salju, embun, dan air yang dingin.” (HR al-nasa’I, 402)
Isi kandungan Hadis
Hadis ini memuat doa Nabi ﷺ yang berulang dengan variasi redaksi, tetapi inti maknanya tetap sama: permohonan penyucian diri dari dosa dan kesalahan, dengan perumpamaan kuat seperti kain putih yang dibersihkan dari kotoran. Dalam konteks iftitah, doa ini dapat dipahami sebagai bagian dari dimensi awal ibadah yang menekankan kesiapan batin seorang hamba sebelum memasuki salat, yaitu membersihkan diri secara spiritual agar layak berdiri di hadapan Allah. Walaupun tidak secara eksplisit dikategorikan sebagai lafaz iftitah yang baku, substansinya tetap beririsan dengan fungsi pembuka salat, yakni menghadirkan kesadaran dosa, ketundukan, dan kebutuhan akan penyucian sebelum melanjutkan rangkaian ibadah utama.
Komentar 0