* Hadis
عن طاوس سمعابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو مِنَ اللَّيْلِ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَلَكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ إِلَهِي، لَا إِلَهَ لي غيرك. (رواه مسلم: ٦٩٥٠)
Terjemahan
Hadis dari dari Thawus, ia mendengar dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Nabi SAW biasa berdoa pada malam hari: “ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkau adalah Penegak langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Tuhan langit dan bumi dan siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah cahaya langit dan bumi. Janji-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, dan hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan-Mu aku berdebat, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah aku atas apa yang telah aku lakukan dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan bagiku selain Engkau.” (HR Muslim: 6950)
Isi kandungan
Hadis ini menunjukkan doa Rasulullah SAW pada salat malam yang berisi pujian, pengagungan, tauhid, dan pengakuan penuh terhadap kekuasaan Allah SWT. Doa tersebut memiliki makna yang sangat dekat dengan konsep doa iftitah, karena menjadi pembuka ibadah yang menghadirkan kesadaran spiritual sebelum seorang hamba membaca ayat-ayat Allah dalam salat. Dalam doa ini, Rasulullah SAW menegaskan keimanan terhadap kebenaran janji Allah, hari akhir, surga, dan neraka, sekaligus menyatakan sikap berserah diri, tawakal, dan taubat kepada-Nya. Selain itu, permohonan ampun atas dosa yang tampak maupun tersembunyi menunjukkan bahwa iftitah tidak hanya berfungsi sebagai pembukaan salat, tetapi juga sebagai sarana penyucian hati dan penguatan iman sebelum bermunajat kepada Allah SWT.
* Hadis
ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ. (رَوَاهُ الْبُخَارِي: ۱٠٦٩)
Terjemahan
Hadis dari Ibnu Abbas RA berkata: Nabi SAW apabila bangun di malam hari untuk tahajud, ia membaca: “ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkau adalah Penegak langit dan bumi dan siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, milik-Mu kerajaan langit dan bumi dan siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Raja langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Yang Maha Benar, janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, perkataan-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, Muhammad SAW itu benar, dan hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan-Mu aku berdebat, dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah aku atas apa yang telah aku lakukan dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Yang Mengakhirkan, tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR al-Bukhari: 1069)
Isi kandungan Hadis
Hadis-hadis tentang doa iftitah menunjukkan bahwa Rasulullah SAW membaca berbagai macam bacaan ketika membuka salat, baik berupa pujian kepada Allah, permohonan ampun, permintaan petunjuk, maupun perlindungan dari gangguan setan. Keragaman redaksi tersebut menunjukkan bahwa doa iftitah tidak terbatas pada satu bacaan tertentu, melainkan memiliki makna sebagai pembuka ibadah untuk menyiapkan hati agar lebih khusyuk dan tunduk kepada Allah SWT sebelum membaca Al-Qur’an dalam salat. Selain itu, kandungan doa-doa tersebut juga menegaskan pentingnya penyucian jiwa, penguatan tauhid, dan penghambaan diri kepada Allah dalam pelaksanaan salat.
Komentar 0